Tampilkan postingan dengan label WALET. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WALET. Tampilkan semua postingan
Minggu, 06 Juni 2010

SUHU DAN KELEMBABAN UNTUK REUMAH WALET

image Pentingnya pengaturan kelembaman dan suhu dalam rumah walet. Bila kita perhatikan ukuran bangunan, bak tampung air, lubang ventilasi, dan pemberian tanah merah pada dasarnya adalah untuk menjaga kelembaban dan suhu agar sesuai dengan habitat seriti/walet. Banyak teori yang mengajarkan kepada kita tentang menghitung berapa luas bangunan, berapa luas bak tampung air, berapa banyak lubang ventilasi agar kelembaban dan suhu ruangan mendekati yang disukai seriti/walet. Semua teori itu adalah mendekati 'benar' karena telah mengalami penelitian dan berdasar pengalaman. Namun hal itu tidak sepenuhnya benar karena tidak mungkin kita dapat membuat ruangan yang mempunyai kelembaban dan suhu sesuai dengan yang disukai habitat seriti/walet tanpa kita mengukur berapa kelembaban dan suhu ruangan tersebut dan mengaturnya. Untuk mengukur kelembaban dan suhu kita dapat menggunakan thermohygrometer (sebatas mengukur saja), tapi akankah kita senantiasa mengukur dan mengaturnya secara manual (di dalam ruangan) dan setiap detik pula padahal seriti/walet butuh ketenangan dalam ruangan. Kalaupun bisa paling dengan jalan diambil jalan tengahnya misalnya pemberian pengembun dalam ruangan untuk membantu meningkatkan walet kelembaban dan suhu dengan cara dihidupkan saat-saat cuaca kering dan panas. Namun hal itu tidaklah pasti.

Sedangkan kelembaban dan suhu dipengaruhi juga oleh banyak faktor yang seringkali tidak disadari seperti cuaca di luar bangunan yang selalu berubah, angin dan lainnya. Sehingga bagi mereka yang ingin memancing  kadang ada yang berhasil dan kadang ada pula yang tidak. Bagi yang berhasil memancing seriti/walet adalah sangat ditentukan oleh faktor keberuntungan saja (mungkin saat itu kelembaban dan suhu ruangan mendekati kelembaban dan suhu yang disukai habitat walet sehingga seriti/walet mau menetap). Dan selama kelembaban dan suhu ruangan tersebut masih dalam toleransi habitat seriti/walet

TEMPAT TINGGAL WALET

Setiap mahluk hidup pada dasarnya memilih tempat berkembangbiak yang aman dan nyaman. Begitu pula walet. Sehingga walet memilih tempat yang memenuhi syarat :

  • Aman yaitu bebas dari gangguan, terlindung dari terpaan angin, terik matahari, hujan dan cahaya yang terang.
  • Nyaman yaitu tempat sesuai habitatnya. Tempat yang sesuai dengan habitat walet adalah bersuhu 26-29 0 C, berkelembaban 80-90 dan dekat dengan tempat ia mencari makan.

Sehingga walet memilih gua-gua alam dan bangunan tertentu sebagai tempat pengembangan populasinya. Semakin aman dan nyaman tempatnya maka semakin bertambah pula jumlah populasinya.

Oleh sebab itu diperlukan suatu perlakuan khusus untuk memancing walet atau menjaga dan mengembangkan populasi walet pada bangunan yang sudah dimasuki walet. Perlakuan khusus itu pada dasarnya adalah membuat bangunan yang sesuai dengan habitat walet.Secara teori , perlakuan khusus itu seperti: ukuran bangunan, bak tampung air, lubang ventilasi, ukuran lubang, pemberian tanah merah, bau-bauan, hujan buatan, pemberian serangga dari makanan yang dibusukkan, suara walet dan lainnya. Semua teori itu adalah benar untuk memancing atau menjaga dan mengembangkan populasi walet karena memang bertujuan untuk membuat bangunan agar sesuai dengan habitat walet.

HAMA DAN CARA MENGATASI

Berikut adalah hewan – hewan yang menjadi musuh atau hama bagi burung walet serta langkah – langkah mengatasinya :

 

HAMA

CARA MENGATASI

Tikus

Tikus memakan telur, anak burung walet / swallow bahkan sarangnya. Perusak ini juga mendatangkan suara dan kotoran yang merusakkan kondisi rumah walet

 

Cara pencegahan tikus dengan menutup semua lubang, tidak menimbun barang bekas dan kayu-kayu yang akan digunakan untuk sarang tikus.

Burung Hantu dan Elang

Memakan burung walet

 

Tangkap dan pindahkant

Semut

Semut api dan semut gatal memakan anak walet dan mengganggu burung walet yang sedang bertelur.

 

Cara pemberantasan dengan memberi umpan agar semut-semut yang ada di luar sarang mengerumuninya. Setelah itu semut disiram dengan air panas.

Cicak dan Tokek

Binatang ini memakan telur dan sarang walet. Tokek dapat memakan anak burung walet. Kotorannya dapat mencemari raungan dan suhu yang ditimbulkan karena hal ini dapat mengganggu ketenangan burung walet.

 

Cara pemberantasan dengan diusir, ditangkap sedangkan penanggulangan dengan membuat saluran air di sekitar pagar untuk penghalang, tembok bagian luar dibuat licin dan dicat dan hindari lubang-lubang yang tidak digunakan

Sebelum membangun rumah walet, peminat budidaya walet perlu mengerti perilaku dan sifat biologis burung walet. Burung walet tidak tahan dingin, tidak menyukai suhu yang berubah-ubah, sangat peka terhadap bau asap belerang, gas, bensin, asap rokok, cat, dan bau pestisida. Lokasi rumah walet harus tenang, bebas kebisingan, terhindar dari gangguan binatang atau manusia. Sekali saja terganggu, mereka akan pergi tak kembali lagi.

Walet biasanya berburu makanan (serangga) mulai pukul 05.00 pagi sampai jam 11.00 lalu mencari kawasan perairan untuk minum hingga pukul 15.00. Kemudian berburu lagi sampai sore lalu pulang sekitar jam 18.00.

Ada tiga daerah yang cocok untuk membangun rumah walet, yaitu: :

  1. Daerah hunian walet: terdapat banyak rumah walet, minimal 3-5 rumah
  2. Daerah perburuan: terdapat banyak sumber makanan dan air
  3. Daerah lintasan terbang walet dari sarang ke lokasi perburuan dengan frekuensi minimal 10 ekor per menit.

Rancangan bangunan rumah walet harus sesuai dengan kebiasaan walet. Suasana ruangannya dibuat seperti kondisi gua sarang walet yang alamiah. Kelembaban ruangan sekitar 80-95%, suhu sekitar 26º-28ºC, berbau dan gelap. Dengan demikian, walet akan betah menghuni rumahnya

Read More … KONDISI RUMAH WALET YANG IDEAL
Sabtu, 05 Juni 2010

image Pernahkah anda melihat tornado atau pusaran angin puting-beliung? Semua benda yang berada di sekeliling tornado akan dibawa terbang masuk ke dalam pusarannya, seperti dihisap ke arah sumbu tornado. Mengapa begitu? Karena tekanan udara di dalam tornado lebih kecil dari tekanan udara di sekitarnya. Perbedaan tekanan udara yang ditimbulkan cukup besar untuk menarik benda-benda seperti drum minyak, atap rumah, dan bahkan seekor kerbau ke dalam pusaran tornado. Lalu, apa hubungannya dengan burung walet? Apakah burung walet mampu terbang menembus pusaran tornado? Begini ceritanya.

Ada jenis pesawat jet tempur yang dilengkapi dengan sepasang sayap yang dapat dilipat ke belakang dan dikembangkan lagi. Jenis sayap seperti ini disebut swept-wing, dan sayap jenis inilah yang memberikan kemampuan terbang cepat dan membelok tajam bagi pesawat jet tempur – seperti kemampuan seekor burung walet. Lucunya, para insinyur penerbangan sudah memanfaatkan keunikan burung ini, jauh sebelum para ilmuan memahami dan menjelaskannya. Bukan saja peswat jet tempur Amerika, F-14 Tomcat yang menggunakan teknik burung walet ini, tetapi pesawat jet penumpang jenis Concorde juga.

Kedua jenis pesawat terbang di atas membutuhkan kecepatan tinggi ketika terbang, tetapi juga kemampuan untuk memperlambat kecepatannya ketika hendak mendarat, tanpa kehilangan ketinggian, atau lebih baik dikatakan tanpa kehilangan kemampuan untuk mempertahankan ketinggian yang tepat, sebab mengurangi kecepatan berarti mengurangi daya dorong ke atas dari udara. Pernahkah anda memperhatikan seekor burung ketika hendak mendarat atau hinggap di cabang pohon? Itu juga adalah salah satu dari rahasia burung walet yang akan diungkap di sini.

Sejak tahun 1996, para ilmuan sudah tahu bahwa serangga menggunakan gejala tornado yang disebut vortex, yaitu aliran udara yang berputar, untuk terbang. Tetapi, menghubungkan bentuk khas sayap burung dengan vortex-nya serangga adalah sesuatu hal yang hampir mustahil untuk diperagakan dan diamati.

Sekitar tahun 2004, para ilmuan membuat model sayap burung walet dan menempatkannya di dalam lorong air yang berfungsi seperti lorong udara (air-tunnel). Air sengaja diberi warna agar aliran air yang timbul bisa lebih mudah diamati. Ternyata, model sayap walet dengan bentuk khusus ini menimbulkan semacam aliran vortex di bagian atas model sayap tersebur. Seperti pada tornado, tekanan rendah di dalam vortex seperti menghisap sayap burung walet ke atas.

Vortex yang terlihat di dalam percobaan water-tunnel tersebut menghasilkan dua hal, masing-masing daya angkat yang besar dan hambatan yang besar untuk semua kecepatan. Ketika terbang cepat, baik burung maupun pesawat jet dengan swept-wings akan melipat sayapnya ke belakang. Ketika akan tinggal landas atau mendarat, sayap dibentangkan kembali untuk mendapatkan daya angkat udara yang lebih besar.

Sama halnya, baik F-14 Tomcat maupun burung walet mampu membelok tajam ke atas dengan mengatur sayapnya untuk menghasilkan tornado yang menariknya ke atas. Kemampuan maneuver semacam inilah yang memampukan burung walet untuk menyambar serangga di udara. Ketika burung walet hendak mendarat, hambatan udara yang dihasilkan memperlambat terbangnya, tetapi daya angkat udara yang dihasilkan menahannya untuk tidak jatuh ke tanah karena kecepatan yang rendah, tetapi bisa mencapai dahan pohon yang ditujunya. Hal ini juga memberikan penjelasan, bagaimana kira-kira burung yang lain mendarat.

Lebih dari sayap serangga atau sayap pesawat jet tempur, sayap burung terdiri dari dua bagian. Bagian yang dekat ke badannya adalah arm-wing yang berfungsi untuk menghasilkan tekanan udara ke atas secara konvensional seperti layaknya sayap pesawat terbang. Bagian sebelah luar disebut hand-wing, yang memiliki sisi depan yang tajam, sehingga mampu menghasilkan tornado dalam posisi sedikit miring. Sementara sayap serangga harus membentuk kemiringan sebesar 25o untuk menghasilkan vortex, sayap burung walet hanya membutuhkan kemiringan 5 – 10o saja.

Selain burung albatross dan burung laut raksasa (giant petrel), semua burung memiliki konstruksi sayap yang kurang-lebih-sama. Oleh sebab itu, teknik terbang burung walet ini dapat diterapkan ke burung-burung tersebut juga.

Penjelasan di atas ini pasti akan mengubah pengertian banyak orang dalam hal bagaimana burung terbang. Tetapi haruslah diingat bahwa alam selalu berada di depan para insinyur/teknisi dan ilmuan. Di dalam hal penggunaan teknik tornado atau vortex di dalam tebang akrobatik burung walet, para ilmuan hanya baru mengupas bagian permukaan dari keseluruhan rahasia alam burung-burung. Ada banyak hal yang masih harus diungkap dan salah satunya adalah, bagaimana burung walet mengatur sayapnya untuk meningkatkan kemampuan terbangnya. Dengan terungkapnya ‘kontrol terbang burung walet’, mungkin saja terjadi bahwa di masa depan nanti, para insinyur akan dapat menciptakan semacam alat terbang dengan kecepatan, kelincahan, efisiensi dan jarak lepas-landas dan mendarat yang pendek seperti yang dimiliki serangga dan burung. Siapa tahu?

http://earning-news.blogspot.com/

image

Read More … TEKNIK TERBANG BURUNG WALET
Senin, 24 Mei 2010

image Tujuan utama dari budi daya walet adalah bertujuan untuk menghasilkan sarang burung walet yang berkualitas, kualitas sarang walet sangat ditentukan oleh cara panennya, cara panen sarang walet tergantung dari banyak hal, di antaranya jumlah populasi, waktu panen, dan bentuk sarang yang akan diambil utuh atau tidak utuh.

supaya budi daya walet dapat memberikan keuntungan yang maksimal sarang harus dipanen pada waktu yang tepat dengan cara panen yang benar, dan memberikan kesempatan bagi walet untuk berkembang biak secara berkelanjutan. dan jangan biarkan walet berkembang biak secara berulang –ulang dalam satu sarang yang akan menyebabkan sarang menjadi kotor dan rusak.

POLA PANEN

pola panen yang baik harus memperhatikan waktu yang tepat agar walet tidak mengalami stress. ada 4 cara memanen walet yaitu panen tetasan, panen rampasan, panen buang telur, dan panen pilihan.

  1. Panen tetasan : panen tetasan dilakukan setelah sarang terbentuk sempurna dan telur telah menetas. sarang di petik setelah anak walet sudah bisa terbang. Kelemahan pola ini, mutu sarang rendah karena sudah mulai rusak dan dicemari oleh kotoran dan bulu walet. Sedangkan keuntungannya adalah burung walet dapat berkembang biak dengan tenang dan aman sehingga polulasi burung dapat meningkat.
  2. Panen rampasan : Cara ini dilaksanakan setelah sarang siap dipakai untuk bertelur, tetapi pasangan walet itu belum sempat bertelur. Cara ini mempunyai keuntungan yaitu jarak waktu panen cepat, kualitas sarang burung bagus dan total produksi sarang burung pertahun lebih banyak. Kelemahan cara ini tidak baik dalam pelestaraian burung walet karena tidak ada peremajaan. Kondisinya lemah karena dipicu untuk terus menerus membuat sarang sehingga tidak ada waktu istirahat. Kualitas sarangnya pun merosot menjadi kecil dan tipis karena produksi air liur tidak mampu mengimbangi pemacuan waktu untuk membuat sarang dan bertelur.
  3. Panen Buang Telur : Cara ini di lakukan  setelah burung membuat sarang dan bertelur dua butir. Telur diambil dan dibuang kemudian sarangnya diambil. Pola ini mempunyai keuntungan yaitu dalam setahun dapat dilakukan panen hingga 4 kali dan mutu sarang yang dihasilkan pun baik karena sempurna dan tebal. Adapun kelemahannya yakni, tidak ada kesempatan bagi walet untuk menetaskan telurnya. dan populasi walet menjadi lambat karena penambahan walet hanya bergantung pada walet baru hasil pancingan
  4. Panen pilihan : adalah cara panen yang paling disarankan cara panen ini memilih memanen sarang yang tidak ada telur walet dan menyisakan sedikit sarang untuk membuat walet lebih betah dan akan kembali lagi ke sarang, dan tidak membiarkan walet untuk bertelur berulang – ulang dalam satu sarang yang sama.

Jangka waktu panen juga mempengaruhi hasil panen, waktu panen bisa dilakukan pemanenan setahun sekali, enam bulan sekali, tiga bulan sekali atau dua bulan sekali tergantung banyaknya sarang yang telah dihasilkan. tetapi jangka waktu panen yang ideal adalah panen 6 bulan sekali, karena burung walet mempunyai waktu untuk lebih mendekati waktu berkembang biak yang alami, sehingga terjadi regenerasi walet yang akan menambah populasi walet lebih cepat. yang harus di waspadai dalam panen 6 bulan sekali adalah dapat memancing datangnya pencuri walet. untuk panen dua bulan sekali juga dapat di lakukan asalkan walet tetap di berikan kesempatan untuk berkembang biak.

Saat panen usahakan tidak dilakukan pada malam hari, karena dapat menggangu walet, saat mengambil walet usahakan ada sebagian sarang yang ditinggalkan agar walet betah dan akan kembali nantinya. lakukan kontrol dan pengawasan terhadap hama di dalam gedung walet. sebelum di petik lakukan penyemprotan dengan air pada sarang yang akan dipetik agar sarang tidak pecah dan rusak. dan disayat dengan menggunakan pisau dengan hati – hati.

image

Read More … POLA PANEN SARANG WALET
Kamis, 20 Mei 2010
budi daya serangga di luar gedung walet dapat dilakukan dengan cara menggunakan buah busuk seperti pepaya, pisang dan nenas. untuk menghasilkan lalat buah menggunakan pisang ambon dan tape dapat dilakukan dengan cara pencampuran pisang ambon dan tape singkong dengan perbandingan 5 : 1. caranya adalah dengan menghancurkan pisang ambon dan tape singkong kemudian dalam campuran tersebut di tambahkan satu gram natium benzoat dan kalsium propionat. kemudian campuran tersebut di masukkan ke dalam botol lalu tancapkan kertas buram ke dalam botol sebagai tempat lalat meletakkan telur yang nantinya akan berubah menjadi larva yang bakal menjadi lalat dewasa.

cara lain untuk mengundang lalat buah adalah dengan menggantungkan kayu pada ketinggian ideal untuk walet, kemudian kayu tersebut di balut dengan kapas yang ditetesi dengan minyak euganol atau minyak cengkeh. namun sayangnya aroma ini kurang disukai walet. jadi jangan terlalu berlebihan dalam menetesi kapas dengan minyak cengkeh.

kutu untuk walet

kutu adalah salah satu pemancing walet agar mau tinggal dan bersarang, kutu sangat disukai walet karena merupakan salah satu makanan burung walet, apabila di salah satu ruangan terdapat banyak kutu, maka walet akan menetap dan nantinya akan bersarang di dalamnya. jadi sebaiknya rumah yang akan dijadikan sarang walet sebaiknya bisa menghasilkan kutu. cara untuk menghasilkan kutu dapat dilakukan dengan cara yang mudah dan murah, kutu dapat di datangkan dengan menggunakan dedak yang agak kasar, memilik banyak menir dan tidak bau apek. dedak biasanya dihasilkan dari mesin penggilingan kedua terakhir dari tahap pemrosesan beras.

penggunaan dedak untuk menghasilkan kutu di dalam gedung walet tidak memiliki efek yang buruk bagi walet, meskipun biasanya satu bulan pertama akan menimbulkan suhu panas, tetapi keadaan akan menjadi dingin pada bulan berikutnya.

sampai sekarang, dengan adanya dedak di gedung walet cara ini sangat efektip untuk membuat walet tetap tinggal dan bersarang. penempatan dedak tidak hanya dapat dilakukan di dalam gedung walet, tetapi juga dapat di tempatkan di luar gedung , atau daerah arena bermain walet atau rooving area. caranya dengan memasukkan dedak yang telah di pilih ke dalam karung atau ember karet dan jangan di tutupi akan tetapi jangan sampai terkena air karena dedak akan menggumpal dan kutu tidak bisa tumbuh.

setelah dua minggu bila sukses maka akan muncul kutu kecil berwarna coklat yang beterbangan yang nantinya akan memancing walet untuk datang ke lokasi tersebut. untuk lebih maksimal sebaiknya membuat beragam jenis kutu, dengan cara menambahkan gaplek yang dipotong kecil – kecil lalu di taburkan di atas dedak.

Read More … BUDIDAYA SERANGGA SEBAGAI PAKAN WALET
Rabu, 19 Mei 2010
Pada dasarnya burung walet termasuk burung liar walaupun untuk saat ini banyak sekali masyarakat kita yang membudidayakan walet ini dengan cara memberikan pakan. walaupun demikian kebiasaan burung walet untuk mencari makan sendiri di alam secara alamiah tidak dapat dihilangkan. sejak fase piyik, burung walet sudah terlatih untuk belajar menangkap serangga sambil terbang, jadi serangga yang dapat dimakan oleh walet adalah serangga yang beterbangan, bukan serangga yang di sebar di lantai atau disuapi.

Jenis serangga yang sangat digemari oleh walet adalah serangga bersayap bening, seperti : semut bersayap, lebah, kumbang, laron, lalat, hama tanaman padi seperti wereng, capung, belalang dan lain – lain yang pada umumnya serangga tersebut berukuran 0.2 – 2.5 milimeter. jadi lokasi yang paling serasi dengan mata rantai makanan dari burung walet adalah daerah yang di sekitarnya masih terdapat lahan persawahan.

jenis serangga yang menjadi makanan burung walet di setiap daerah berbeda – beda jenisnya, hal ini yang membuat tingkat kualitas dari sarang walet menjadi beragam. untuk membuat kualitas sarang walet menjadi lebih baik, peternak harus memberikan pakan tambahan bagi burung walet. pemberian makanan tambahan bagi walet dapat dilakukan dengan dua cara yaitu cara jangka panjang dan cara jangka pendek.

CARA JANGKA PENDEK

cara jangka pendek dilakukan dalam jangka waktu 1 – 2 hari atau jangka waktu yang dekat. cara yang dilakukan adalah dengan cara menangkap serangga – serangga yang beterbangan di sekitar kita misalnya semut bersayap yang bisa di tangkap di lubang – lubang dalam tanah di sekitar daerah kita, bisa juga menangkap wereng dan hama padi si daerah persawahan pada siang ataupun malam hari, kutu loncat atau laron di sekitar rumah kita saat musim hujan datang. cara tersebut dilakukan secara manual.

CARA JANGKA PANJANG

cara ini dilakukan untuk menghasilkan serangga – serangga dalam waktu yang lama dan berkelanjutan. cara ini juga dapat mengatasi kurangnya ketersediaan makanan dari alam saat memasuki musim kemarau. cara ini dapat dilakukan dengan cara menanam tanaman tumpang sari, membuat kolam dan budi daya serangga.

  • Tumpang sari : menanam tanaman tumpang sari bisa dilakukan jika di sekitar rumah walet anda mempunyai lahan kosong, cara ini akan menghasilkan serangga yang beterbangan di sekitar tanaman. dan cara ini juga dapat memberikan hasil berupa buah atau sayuran
  • Membuat kolam : pembuatan kolam di sekitar rumah walet sebaiknya ditambahkan tanaman – tanaman air di atas kolam, karena tanaman air akan dapat memicu perkembangbiakan serangga air yang akan menjadi makanan dari walet.
  • Budidaya serangga : budidaya serangga bisa dilakukan di dalam maupun diluar rumah walet. salah satu cara budidaya serangga adalah dengan cara menimbun gaplek, gaplek tersebut ditimbun di sudut ruangan kemudian disiram dengan air, dalam jangka waktu sekitar satu bulan akan muncul kutu – kutu putih. cara ini akan menghasilkan kutu – kutu gaplek yang nantinya akan beterbangan di sekitar lokasi timbunan gaplek. bila nantinya kutu tersebut terlalu banyak, cara mengatasinya adalah dengan cara menyiram dengan air kapur. selain gaplek dapat dilakukan dengan menggunakan penumpukan sayur – sayuran atau buah – buahan busuk yang dapat menghasilkan serangga seperti : pepaya, pisang, batang pisang dan nenas.

Dengan menggunakan cara jangka panjang maka hasil yang akan kita dapatkan lebih maksimal dan dapat membuat burung walet lebih betah di rumah walet milik anda, dan hal yang perlu diperhatikan adalah memperhatikan masalah kesehatan kita dan cara tersebut sebaiknya tidak di jalankan di sekitar kawasan pemukiman padat penduduk, karena dapat mengganggu warga lain

Untuk cara terbaik membudidayakan serangga sebagai makanan walet akan saya bahas di artikel berikutnya mengenai CARA BUDIDAYA SERANGGA SEBAGAI PAKAN WALET

Read More … MAKANAN TAMBAHAN UNTUK BURUNG WALET
Sabtu, 15 Mei 2010

Sarang burung walet yang dihasilkan dari goa bawah tanah di Bima, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, merupakan salah satu yang terbaik di dunia, sehingga harganya tergolong tinggi.

Goa bawah tanah yang menjadi sarang burung walet (Colocalia spp) sejak lama dan berada dalam kepemilikan Pemkab Bima itu kandungan proteinnya termasuk tertinggi, kata eksportir sarang walet asal Surabaya, Benny Koesno, kepada ANTARA News.

image

Ditemui di restoran sarang walet terpadu pertama di Indonesia, “Nest Village Restaurant & Store” di Mertasari, Sunset Road, Kuta, Bali, disebutkan bahwa harga sarang walet kini yang terendah sekitar Rp10 juta dan kualitas terbaik mencapai sekitar Rp20 juta per kilogram.

“Kami sejak lama menjalin kerjasama pengelolaan dan pemanenan sarang walet di goa bawah tanah tersebut dengan Pemkab Bima,” kata eksportir grup usaha King`s Nest tersebut.

Melalui grup usaha King`s Nest, Benny Koesno yang merintis usaha sarang walet sejak 1995, setahun kemudian hingga kini rutin mengekspor produknya ke China, Hongkong, Amerika Serikat dan Singapura.

Didampingi penanggungjawab restoran tersebut, Donald Manoch, disebutkan bahwa goa burung walet di Bima itu benar-benar berada di bawah tanah, sehingga burung walet keluar-masuk melewati lobang goa di permukaan tanah.

Sementara lingkungan sekitarnya berupa hutan yang masih tergolong lestari, sehingga ribuan burung tersebut mudah mendapatkan makanan dari alam yang mampu menghasilkan kandungan protein tinggi.

Sarang walet dari goa bawah tanah tersebut menjadi salah satu bahan ramuan makanan dan minuman yang disajikan di Nest Village, selain dijual di tokonya dalam bentuk olahan siap dimasak dengan label “King`s Nest”.

Ekspansi usaha restoran dan toko sarang walet tersebut dipadu dengan tempat wisata yang menyediakan miniatur “rumah walet” dan proses pengolahan sarang walet, di lokasi yang masih tergolong alami.

Bupati Bima, Ferry Zulkarnain ST, yang menjalin kerja sama dengan King`s Nest, sempat mengunjungi rumah makan sarang walet terpadu di Kuta tersebut.

Melalui rintisan usaha baru itu, Benny Koesno berharap kelak akan mampu membangun kesan atau “brand image” bahwa sarang walet merupakan produk Indonesia.

Hal itu mengingat selama ini produk sarang walet lebih dikenal sebagai milik masyarakat Hongkong, padahal sekitar 80 persen kebutuhan sarang walet dunia dipasok dari Indonesia.

Produksi sarang walet dari berbagai wilayah Indonesia, terutama kini dari rumah-rumah walet yang tersebar di perkotaan maupun pedesaan, diperkirakan mencapai 20 ton per bulan.
Eksportir dan pedagang sarang burung walet pun bertebaran di berbagai daerah,

image

Read More … Sarang Walet Goa Bawah Tanah di Bima Terbaik Di Dunia
Kamis, 13 Mei 2010

Secara umum standar mutu dan harga produk sarang burung walet ditentukan oleh beberapa hal sebagai berikut: bentuk sarang, kebersihan sarang dan bulu, kadar air, warna, ketebalan dan ukuran sarang.

Banyaknya faktor yang selama ini digunakan untuk melakukan penilaian terhadap kualitas sarang burung walet mengakibatkan terjadinya keanekaragaman tingkat mutu dan kualitas pada komoditi jenis ini. dengan adanya tingkat kualitas ini, mengakibatkan pula terjadinya tingkat penilaian harga yang cukup besar bagi setiap kilogram produk sarang burung walet yang dijual oleh peternak walet di berbagai daerah. Kenyataan di pasaran menunjukkan, bahwa perbandingan harga sarang dapat berkisar antara satu untuk sarang berkualitas rendah dan tujuh kali lipat harganya bagi sarang berkualitas tinggi. Dengan kata lain semakin rendah kualitas sarang walet yang dijual, maka semakin rendah pula kemampuan tawar (bargaining power) peternak walet dalam melakukan transaksi dengan pedagang.

Selama ini yang terjadi pada usaha sarang burung walet di berbagai daerah adalah bahwa para peternak walet kurang mampu meraih nilai tambah tertinggi dari produk sarang burung yang dihasilkannya, semua ini berkaitan dengan tingkat performansi (penampilan) sarang burung walet yang dihasilkan tersebut kurang mampu memenuhi syarat-syarat kualitas tertinggi.

Sebenamya produk sarang burung walet di indonesia banyak yang memiliki potensi besar untuk menjadi sarang berkualitas bagus degan harga jual yang tinggi bila dibersihkan dan diproses terlebih dahulu sebelum dijual, karena pada umumnya air liur burung walet yang dipakai untuk menyusun sarang tersebut terbentuk dan serangga pakan walet yang jumlah dan macamnya sangat besar di berbagai daerah sentra budidaya walet,

Namun karena pola panen sarang burung walet yang dipakai oleh kebanyakan peternak adalah " Pola Panen Tetasan", maka sarangnya menjadi tercemar baik oleh bulu maupun kotoran yang terdiri dari debu, bekas hama pengganggu dan lain sebagainya. Hal ini karena sarang walet tersebut sebelum dipanen, telah digunakan oleh burung walet itu untuk mengerami dan menetaskan telurnya serta mengasuh anak-anaknya. Sehingga akibatnya sarang walet itu mengalami perubahan warna (tidak putih bersih lagi) karena dipenuhi oleh bulu dan kotoran dari walet itu sendiri.

Pola panen ini secara umum diterapkan oleh para peternak walet di daerah dengan tujuan untuk mengembangkan populasi burung walet sebanyak-banyaknya sebelum nantinya digunakan pola panen lainnya. Namun konsekuensi dari pola panen seperti ini adalah kualitas sarangnya menjadi rendah, yang berarti pula harganya pun menjadi berkurang banyak.

biasanya para peternak walet saat melakukan transaksi di pasaran, para peternak walet itu selalu posisi penawarannya lebib rendah dibanding posisi pedagang sarang burung walet. Hal ini karena para pedagang pengumpul biasanya selalu lebih banyak tahu tentang berbagai kualitas sarang burung dibanding para peternak walet. Selain itu, penentuan harga harus mengikuti klasifikasi mutu yang ditetapkan oleh para pedagang pengumpul. Akibatnya, seringkali harga yang diterima peternak sangat rendah, karena para pedagang berdalih bahwa kualitas produk sarang tersebut kurang baik. Cara transaksi seperti disebutkan di atas, juga berlaku bagi semua jenis komoditi sarang walet.

di saat penjualan hasil panen, para peternak walet biasanya langsung menjual begitu saja produknya kepada pedagang pengumpul, atau para eksportir tanpa melakukan pembersihan serta pemrosesan bentuk terlebih dahulu, sehingga otomatis harga per kilogramnya menjadi rendah, yang menyebabkan peternak kurang bisa meraih pendapatan secara maksimal dari hasil produksinya. Keadaan ini terjadi, karena pengetahuan mereka tentang cara dan alat pembersihan bulu maupun kotoran serta pemrosesan sarang walet masih sangat kurang. dan untuk informasi seperti ini sudah pasti selalu dirahasiakan oleh orang yang telah tau proses pencuciannya karena alasan mata pencaharian.

Dari beberapa uraian tersebut di atas, dapat disebutkan beberapa masalah yang berkaitan dengan kualitas dan harga komoditas sarang burung walet di berbagai daearah di indonesia sebagai berikut:

  • Sarang burung walet di Kabupaten daerah pada umumnya tercemar dan dipenuhi kotoran karena dihasilkan dari "Pola panen tetasan". Tercemarnya sarang ini karena sarang tersebut telah digunakan oleh burung walet untuk mengerami dan menetaskan anak-anaknya, sehingga sarang tetasan dipenuhi oleh kotoran anakan walet, juga dipenuhi pula oleh bekas-bekas kotoran dan hama pengganggu, seperti kecoa, kutu busuk atau air kencing kelelawar, sehingga warnanya tidak putih lagi. Pola panen tetasan ini terpaksa harus dilakukan oleh peternak walet di Kabupaten Jember dengan tujuan agar burung walet mempunyai kesempatan cukup untuk beregenerasi dan meningkatkan populasi.
  • Banyaknya bulu yang melekat pada sarang burung walet hasil dari para peternak walet yang meskipun berbentuk besar dan berserat baik, tetapi masih dihargai rendah di pasaran karena dianggap kurang baik (mengingat bulunya sulit hilang). Walaupun sebenarnya produk sarang walet itu mempunyai potensi besar untuk mendapatkan harga lebih tinggi apabila diproses terlebih dahulu sebelum dijual.
  • Berubahnya warna sarang walet bila disimpan lama serta mudah terserang jamur, Sehingga kualitasnya dapat berkurang. Hal ini karena sarang walet tersebut sudah mengalami pencemaran sejak diambil dari asalnya, Sehingga dalam tempat penyimpanan, sarang itu mengalami proses perubahan warna karena sudah mengandung spora jamur sejak dipetik dari rumah walet.

Tujuan dari kegiatan yang dilakukan adalah merancang alat pembersih dan pemroses sarang burung walet, agar dapat meningkatkan kualitas sarang burung walet hasil budidaya walet para peternak di Kabupaten Jember, sehingga nilai tambah tertinggi dan komoditas sarang walet di Kabupaten Jember dapat diraih.

BAHAN DAN METODE CUCI SARANG BURUNG WALET

Di artikel saya terdahulu telah di jelaskan  cara pencucian walet yang umumnya dilakukan oleh peternak yang memiliki liur walet dalam skala kecil, yang artinya hanya untuk mencuci walet milik sendiri, anda bisa melihat artikelnya di sini dan untuk metode pencucian liur walet skala besar bisa anda lihat di artikel ini dan dibawah ini adalah gambar skema pelaksanaannya.

metode cuci walet

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL LENGKAP MENGENAI GAMBAR DI ATAS

Read More … KWALITAS SARANG BURUNG WALET

metode cuci walet

 Bahan Yang Digunakan Untuk Pembuatan Alat

  • Drum yang berukuran tinggi 65 cm dan diameter 45 cm, berfungsi sebagai hopper terbuat dari logam anti karat dengan ketebalan 2 mm, yang berfungsi sebagai tempat pemroses sarang walet kotor yang terendam dalam air pada drum tersebut. Drum ini, juga berfungsi sebagai tempat kedudukan kipas (blower) pemutar air yang posisinya di bagian bawah drum, yang tempatnya dengan ruang untuk membersihkan sarang dipisahkan dengan saringan logam.
  • Motor penggerak dengan as poros dipasangi gir pada bagian atasnya untuk transmisi gerak dan dinamo ke as poros kipas pemutar air di dalam drum pencuci sarang. As poros kipas pemutar air di dalam drum, dilengkapi dengan gir yang terletak tepat di tengah di bagian bawah (luar) dari drum. Kemudian, kedua poros itu (dinamo) dengan kipas pemutar air tersebut dihubungkan dengan sabuk karet yang panjangnya 80 cm, lebar sabuk 4 cm dan tebalnya 3 cm sebagai tranfer gerak dari dinamo ke kipas pemutar air.
  • Kipas pemutar air yang terdiri dari dua plat baja dipasang pada bagian as poros putamya dengan baut, agar dapat dilepas bila drum hendak dibersihkan, juga dimaksudkan untuk dapat lebih dibengkokkan atau dibuat lebih datar agar kecepatan putaran kipas pemutar air dapat diatur lebih cepat atau lambat sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan. Hal ini karena kalau jumlah sarang walet yang akan dibersihkan cukup banyak dan kondisinya sangat kotor, maka diperlukan putaran air yang lebih cepat.
  • Saringan dengan lubang-lubang berdiameter 4 cm dipakai sebagai pembatas antara ruangan kipas air yang berada di bagian bawah drum dengan bagian atasnya, berfungsi untuk mencegah agar sarang walet yang dibersihkan beserta bulu-bulu kotornya tidak masuk ke dalam ruangan kipas air dan menimbulkan kemacetan kipas pemutar air.
  • Kran pelepas air cucian sarang walet, digunakan untuk melepaskan air kotor yang telah digunakan untuk mencuci sarang walet, letaknya di dasar drum, diameter kran 4 cm.
  • Potongan-potongan besi logam sebagai kerangka untuk melekatnya drum, motor penggerak, roda gelinding, as gir, dan alas logam sebagai tempat meletakkan motor penggerak, agar semua komponen dan alat pembersih sarang walet tersebut dapat melekat menjadi satu kesatuan secara terpadu. Kerangka tersebut terdiri dari empat potong logam baja bertekuk "L" dengan ketinggian 60 cm (vertikal) dan empat potong baja logam lekuk "L" yang dipasang mendatar dengan ketinggian 60 cm.

Fungsi Bagian-bagian dan Prinsip Kerja dari Alat

  • Drum untuk penampung berfungsi sebagai bak penampung (hopper) sarang walet yang akan dibersihkan. Drum ini harus diisi dengan air jika digunakan untuk mencuci sarang walet. Bagian bawah (dasar drum) ada as yang posisinya berada ditengah-tengah dari lingkaran dasar dari drum. As ini bagian atasnya merupakan tempat kedudukan dari blower pemutar air, sedangkan bagian bawahnya dihubungkan dengan sabuk karet ke bagian as poros dinamo untuk transfer putaran as dinamo ke kipas penggerak air.
  • Ruang Kipas pemutar air yang berada di bagian dasar dari drum dipisahkan dari ruang atas drum dengan saringan logam yang berlobang-lobang dengan diameter lobang 4 cm, agar supaya gerakan putaran kipas pemutar air dalam ruang bawah drum dapat menyebabkan putaran air pada ruang bagian atas dari drum sekaligus memutar sarang walet kotor yang berada dalam air tersebut. Dengan cara ini kotoran, bulu dan debu yang menempel pada sarang itu menjadi lepas.
  • Motor penggerak, yang ukurannya 40 cm, ketinggian 25 cm mempunyai tenaga pemutar 0,5 HP dan menghidupkannya dengan listrik; sedangkan as porosnya dihubungkan dengan sabuk karet pada as poros penggerak kipas pemutar air di bagian bawah dari drum pembersih. Motor penggerak yang beratnya 25 kg ini terletak pada lempeng logam sebagai peyangga/bantalannya.
  • Kipas pemutar air, dibuat mudah dilepas agar kemiringannya dapat diubah agar kecepatan putaran kipas dapat diatur sesuai dengan kebutuhannya.
  • Kran pelepas air cucian sarang, terletak di bagian dasar dari ruang kipas pemutar air, yang berfungsi untuk mengeluarkan air cucian walet apabila pekerjaan pencucian sarang walet telah dilakukan; di mana kotoran-kotoran besar biasanya tersangkut pada saringan logam di dalam drum yang dapat dilepaskan dari dalam drum.
  • Kaki-kaki logam dari alat pembersih berfungsi sebagai kerangka untuk melekatkan semua bagian dari alat, di mana bagian bawah dari kerangka dilengkapi dengan 4 roda gelinding, sehingga alat tersebut mudah dipindah tempatkan dengan cara mendorongnya.

Metode yang Digunakan dalam Pembersihan Sarang Walet

  1. Sarang walet sebelum diproses diseleksi dan dipisah-pisahkan berdasarkan banyaknya kotoran seperti bulu, jenis, warna dan lain-lainnya, tujuannya agar waktu dan penanganan yang dibutuhkan dalam pemrosesan relatif sama.
  2. Drum pada alat pencuci sarang tersebut diisi dengan air bersih, sebagai media pencuci sarang walet sampai drum mendekati penuh.
  3. Masukkan sarang walet kotor yang akan dibersihkan tersebut ke dalam bak penampung (hopper).
  4. Pekerjaan pencucian dilakukan dengan cara menghidupkan mesin tersebut melalui penyambungan kabelnya ke sumber listrik agar kipas pemutar dapat berputar 1800 rpm.
  5. Air di dalam drum akan berputar jika alat tersebut dihubungkan dengan listrik, sehingga air dalam drum ikut berputar dan sarang walet yang terendam dalam air itu juga ikut berputar.
  6. Pekerjaan pencucian dilakukan sampai sarang menjadi bersih dan bila belum bersih pencucian diulang lagi sampai benar-benar bersih dan bila sudah bersih air cucian dikeluarkan,
  7. Pada pencucian terakhir sebaiknya airnya dibubuhi Sodium Benzoat, agar dapat mencegah terjadinya jamur dan pembusukan terutama nanti pada saat sarang walet disimpan
  8. Setelah sarang walet diambil dari drum pencuci, maka jika masih ada bulu yang tidak hilang bulu tersebut dicabut dengan pinset.
  9. Selanjutnya sarang walet tersebut dicetak atau dibentuk sesuai dengan bentuk sarangan yang rupanya seperti mangkokan dari bahan stainless steel sebelum sarang itu dikeringkan.
  10. Pengeringan sarang dilakukan selama 12 jam pada saat sarang masih berada dalam cetakan, agar bentuk sarang tak berubah dan tak boleh dikeringkan langsung di bawah sinar matahari.

METODE GAMBAR 2 Metode GAMBAR 2 2

HASIL DAN PEMBAHASAN

Setelah alat pencuci sarang walet tersebut selesai dirancang dan dibuat, maka alat tersebut dicobakan langsung pada komoditas sarang hasil dari para peternak walet di Kecamatan Tanggul Kabupaten Jember. Berdasarkan hasil pencucian sarang yang dilakukan tersebut dapat diperoleh beberapa data tentang gambaran efektivitas pembersihan sarang walet dengan menggunakan alat yang dirancang.

Pembersihan sarang walet dengan memakai alat tersebut dilakukan dengan mencuci sarang walet dari kualitasnya berbeda (5 macam kualitas) atas dasar banyaknya bulu dan kotoran. Berdasarkan kualitasnya, 5 macam sarang walet tersebut adalah:

  • Sarang bulu enteng : yaitu sarang Walet yang pencemaran bulunya sedikit (10% dari luas permukaan).
  • Sarang bulu luar : yaitu sarang yang pencemaran bulunya di bagian luar saja.
  • Sarang bulu dalam : yaitu sarang yang pencemaran bulunya di bagian dalam dari sarang.
  • Sarang bulu berat : yaitu sarang walet yang tercemar oleh bulu dan kotoran baik di bagian dalam maupun luarnya, lebih dari 50% permukaannya.
  • Sarang goa : yaitu sarang yang berasal dari goa yang warnanya kusam kehitaman dan penuh dengan bulu.

 TABEL METODE

Dari Tabel 1 terlihat bahwa penggunaan alat cuci sarang burung dapat meningkatkan pendapatan peternak walet rata-rata 3.576 juta rupiah. ini berarti penggunaan alat tersebut dapat meningkatkan nilai tambah dan efisiensi pekerjaan pencucian sarang walet, karena hanya membutuhkan waktu rata-rata 7.4 menit.

Dari hasil pengamatan uji coba alat tersebut ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yakni tentang kapasitas alat. Alat ini memiliki kapasitas maksimum 3 kg, sehingga pekerjaan harus dilakukan secara bertahap apabila produk yang harus dibersihkan melebihi kapasitas tersebut. Kapasitas alat yang hanya 3 kg disesuaikan dengan kapasitas hasil panen dari peternak walet di Kecamatan Tanggul Kabupaten Jember, yang rata-rata sekali petik hasilnya kurang lebih 3 kg. Di masa datang perlu dirancang alat dengan kapasitas yang lebih besar.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pemakaian alat tersebut di kalangan peternak walet di Kecamatan Tanggul cukup populer, karena 70% dari seluruh peternak walet yang tergabung dalam paguyuban pewalet Tanggul Raya (23 orang dari 33 orang peternak walet yang ada), telah tertarik menggunakan model alat tersebut untuk mencuci hasil sarangnya. Para peternak walet itu pada akhirnya mampu membuat sendiri alat pencuci sesuai dengan model yang dirancang tetapi dengan bahan logam yang lebih baik.

Pengaruh positif lainnya dari penggunaan alat tersebut di tingkat peternak adalah bahwa regenerasi walet dalam budidaya walet di rumah peternak menjadi terjamin. Hal ini tidak lain karena peternak walet yang tadinya enggan melakukan siklus petik "panen tetasan" (yaitu sarang walet dipetik setelah sarang walet dipakai untuk mengerami dan menetaskan telurnya), karena hasil sarang tetasan adalah berkualitas rendah, tetapi setelah tersedianya alat cuci tersebut., maka peternak tidak segan-segan lagi untuk melakukan panen tetasan yang merupakan bagian dari upaya menjaga azas kelestarian populasi burung walet yang dipeliharanya.

Demikian pula dengan adanya alat tersebut, peluang kerja yang ada di pedesaan juga menjadi bertambah, karena ada peluang untuk bekerja sebagai tenaga pembersih, pencetak dan pengering sarang walet yang selama ini tidak pernah dilakukan. Adanya pekerjaan pencucian sarang tersebut juga menambah penghasilan peternak walet, karena air cucian sarang laku dijual Rp. 15.000.- / 3 liter untuk mengolesi seluruh dinding rumah walet baru agar suasananya disukai oleh burung walet.

Dari sisi lain, alat tersebut masih dapat disempurnakan lagi dalam hal pengaturan tingkat kecepatan kipas pemutar air, agar bekerja secara otomatis. Hal ini dapat dilakukan dengan menyediakan beberapa tingkat kecepatan putaran sesuai dengan kondisi kekotoran sarang walet. Hal ini dapat dilakukan bila kondisi sarang walet hasil para peternak walet itu dapat diidentifikasikan berbagai tingkat kekotorannya. Tetapi karena hasil sarang dari para peternak walet itu selama ini cukup beragam kualitasnya, maka untuk sementana ini sulit diidentifikasi. Karena itu, solusinya adalah bahwa kipas putaran air dari alat yang dirancang tersebut dilengkapi dengan mur dan baut, yang dapat dicopot sewaktu-waktu, sehingga kipasnya dapat dirubah kemiringannya untuk mengatur kecepatan putaran kipas sesuai dengan kondisi kekotoran sarang walet.

KESIMPULAN DAN SARAN

Dari hasil kegiatan pengabdian masyarakat melalui perancangan alat pencuci sarang burung walet tersebut, ada beberapa hal yang dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Alat yang dirancang itu mampu meningkatkan kualitas dan harga sarang walet hasil panen para peternak walet di Kecamatan Tanggul, sehingga posisi bargaining power peternak walet meningkat dalam memasarkan produknya.
  2. Peningkatan nilai tambah rata-rata dari komoditas sarang walet yang telah dicuci dengan menggunakan alat itu adalah sebesar 30.31%.
  3. Alat tersebut telah dapat diterima oleh kalangan peternak dengan baik, karena dari seluruh anggota kelompok peternak yang mengikuti kegiatan ini ternyata 70% telah menggunakan alat tersebut untuk mencuci hasil sarang waletnya.
  4. Kapasitas mesin cuci sarang dan keceptan putarannya dapat disempurnakan, supaya lebih besar dan pengaturan kecepatannya dapat bekerja lebih otomatis, apabila budidaya walet di Kecamatan Tanggul dikembangkan lebih lanjut.
  5. Dengan adanya penggunaan alat ini, maka peluang kerja di pedesaan tempat budidaya walet meningkat, demikian pula hasil samping proses pencucian sarang (air cucian sarang walet) dapat dijual sehingga dapat menambah penghasilan pengusaha walet.

Saran-saran:

  1. Jika pengembangan produksi sarang walet di kecamatan Tanggul berhasil, maka kapasitas cuci dan alat yang dirancang perlu ditingkatkan.
  2. Melihat potensi pasar dan daya dukung alam sekitar dalam memasok serangga pakan walet maka perlu adanya program pengembangan usaha walet yang berkesinambungan dan lebih besar.

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih disampaikan kepada Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, yang telah memungkinkan terselenggaranya program ini sesuai dengan sasaran dan harapan.

 

Read More … METODE CUCI SKALA BESAR
Rabu, 12 Mei 2010

Double boiled birds nest with coconut

Bahan-bahan:
1 butir kelapa hijau utuh
40 gram sarang burung walet
200 gram gula batu
500 cc air
20 cc kelapa hijau

Cara memasak:

  • Cuci kelapa dan bersihkan sabutnya hingga warna hijaunya terlihat bersih
    Keluarkan seluruh air kelapa
  • Ambil satu mangkuk air panas, lalu rendam sarang burung walet selama satu jam supaya mudah memisahkannya.
  • Ambil gula lalu buat menjadi karamel.
  • Tuang karamel dan sarang burung walet ke dalam kelapa hijau.
  • Kukus hingga 30 minit
  • Tuang air kelapa yang dikeluarkan tadi ke dalam kelapa hijau setelah dikukus.

Braised birds nest with crab roe.

Bahan-bahan
40 gram sarang burung walet
1ekor kepiting, diambil telurnya
200 gram kaldu ayam
1 butir putih telur
Bumbu-bumbu, seperti garam, gula, dan merica secukupnya
4 batang choy sam hong kong (sayur hijau)
10 gram tepung terigu

Cara memasak:

  • Ambil telur kepiting, lalu cuci hingga bersih.
  • Kukus telur kepiting selama 10 menit.
  • Ambil semangkuk air panas, lalu rendam sarang burung walet selama satu jam supaya mudah untuk memisahkannya.
  • Campurkan kaldu ayam, sarang burung walet, dan bumbu-bumbu. Didihkan selama
    3 menit lalu letakkan di atas piring oval.
  • Letakkan choy sam (lobak} yang telah direbus di tepi piring.
  • Untuk bahan saus, campurkan kaldu ayam, daging kepiting, dan putih telur hingga
    menjadi gravey (kecokelatan), lalu tuangkan tepung terigu. Aduk rata hingga kental,
  • lalu tuangkan di atas sarang burung.
  • Selanjutnya, tebarkan telur kepiting yang telah dibersihkan di atas menu tersebut.

Stewed birds nest with American Ginseng

Bahan-bahan
75 gram sarang burung walet yang sudah direndam
8 gram irisan american ginseng
1 sendok makan gula batu
2 cangkir air yang sudah mendidih

Cara memasak

  • Cuci irisan american ginseng dan taruh ke dalam panci.
  • Tambahkan air, dan rebus hingga mendidih selama 50 menit.
  • Tambahkan sarang burung walet dan rebus selama 10 menit.

Birds neast soup

Bahan-bahan
15 gram sarang burung walet kualitas super
2 potong jamur hitam kering
Irisan telur kuning dadar secukupnya
3 cangkir air kaldi ayam

Cara masak

  • Cuci sarang burung walet hingga bersih.
  • Rendam sampai lunak.
  • Setelah direndam, sarang burung disobek-sobek dan dicucikembali, kemudian
    dikeringkan.
  • Letakkan sarang burung tersebut di dalam panci.
  • Rendam jamur hitam sampai lunak.
  • Cuci dan iris-iris jamur hitam.
  • Letakkan jamur di atas sarang burung.
  • Tuangkan air kaldu.
  • Rebus selama 40 menit atau sampai air mendidih.
  • Sajikan selagi masih panas.

Stewed birds nest with rock sugar

Bahan-bahan.
113 gram sarang burung walet super yang sudah direndam
113 gram gula batu
3,5 cankir air.

Cara memasak:

  • Cuci gula batu hingga bersih.
  • Rebus 3,5 mangkuk air dan masukkan gula batu ke air rebusan itu.
  • Masak dengan api kecil hingga gula mencair.
  • Saring rebusan air gula batu lalu rebus kembali selama 20 menit.
  • Masukkan sarang burung walet.
  • Rebus kembali sekitar 10 menit.
  • Tuangkan ke dalam mangkuk dan sajikan selagi panas.
Read More … resep masakan sarang walet

Untitled-2 Berdasarkan buku Pedoman Budidaya Walet yang diterbitkan oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Blitar, sarang burung walet ditemukan di Indonesia di daerah Kebumen, Jawa Tengah pada tahun 1720 oleh seorang lurah yang bernama Sadrana.  Suatu hari, saat Sadrana berenang di pantai, dia melihat banyak burung walet beterbangan dan kemudian masuk ke dalam sebuah gua .Sadrana dan teman-temannya memasuki gua tersebut dan menemukan sarang burung walet di dinding-dinding gua yang berwarna putih keperak-perakan. Kemudian, mereka mengambil beberapa sarangnya dan dibawa kepada Sultan Katasura setelah dimasak. Sultan Katasura sangat menyukai sarang burung walet tersebut Sejak saat itulah, sarang burung walet menjadi komoditas yang sangat berharga danhanya dimakan oleh orang-orang yang sanggup membeli sarang tersebut.

Walaupun cerita ini menggambarkan awal mula konsumsi sarang burung walet di Indonesia, namun kita juga harus mempertimbangkan pengaruh kebudayaan Cina terhadap kebudayaan Indonesia terutama di bidang pengobatan tradisional. Ini berdasarkan fakta bahwa di Cina orang-orang mulai memakan sarang burung walet ratusan tahun sebelum Sadrana memperkenalkan sarang burung walet kepada Sultan Katasura.

Menurut Agromedia Indonesia, sarang burung walet mulai dibudidayakan pada tahun 1980 di pulau Jawa ketika seorang muslim yang bernama Tohir Sukarama pulang ke kampung Sedaya, Gresik. setelah beberapa tahun tinggal di tanah suci Mekah. Dia mendapati rumahnya telah menjadi tempat bersarang walet. Karena dia sudah mengetahui bahwa nilai ekonomi sarang burung walet sangat tinggi, maka dia pindah ke rumah yang baru dan mulai memelihara burung walet di rumah lamanya.  Karena teknik budidaya walet dengan cara ini berhasil, beberapa orang kemudian mengikuti teknik tersebut, tetapi hanya orang yang berhubungan dekat dengan Sukarama. Kemudian setelah beberapa tahun teknik merumahkan walet mulai tersebar luas.

Pada akhir tahun 1980-an “para ilmuwan pun mulai melakukan penelitian mengenai walet dan teknik-teknik merumahkannya. Sejak saat itu, teknik budidaya walet mulai banyak dipublikasikan lewat buku panduan manual, pelatihan, seminar, dan agen-agen konsultan” . Pada tahun 1989, berbagai pihak yang berkecimpung dalam budidaya walet bertemu dalam seminar budidaya walet. Termasuk dalam pihak-pihak ini adalah pemerintah, peneliti dan para praktisi walet dari Indonesia dan luar negeri. Seminar ini membahas tentang teknik budidaya burungwalet yang masih tersembunyi dan tersebar sehingga industri tersebut bisa berkembang.

Ada tiga jenis burung walet yang bisa dikomsumsi sebagai makanan antara lain: Collocalia fuciphaga, Collocalias maxima dan Collocalia esculenta (burung sriti). Ada satu jenis burung walet lagi yaitu Collocalia germani, tetapi menurut pendapat Chantler dan Driessens (1995), Collocalia germani termasuk dalam spesies Collacalia fuciphaga sehingga  merupakan spesies tersendiri.

Collocalia germani tidak ditemukan di Indonesia, namun burung tersebut ditemukan di negara lain di Asia seperti Vietnam. Dalam dunia akademik ada perdebatan yang menyatakan bahwa burung-burung ini seharusnya tidak termasuk jenis burung Collocalia tetapi termasuk dalam jenis Aerodramus, tetapi di dalam skripsi ini akan digunakan jenis Collocalia karena itu adalah jenis burung walet yang biasanya ditulis di dalam buku-buku dan perdebatan juga belum diputuskan.

Collocalia fuciphaga adalah jenis burung yang banyak dicari karena burung tersebut bersarang putih. Collocalia fuciphaga ditemukan di Cina selatan dan Asia Tenggara termasuk Indonesia. Di Sumatra dan Kalimantan burung tersebut bisa hidup sampai ketinggian 2800 meter di atas permukan laut, tetapi di Jawa dan Bali burung ini biasanya hidup dekat pantai di dalam gua yang gelap dan dalam, dengan menggunakan echolocation didalam gua.

Burung tersebut kira-kira berukuran 12 sentimeter, dadanya berwarna hitam kecoklatan dan warna punggung lebih kelabu. Ekor burung ini bercabang, paruhnya berwana hitam dan kakinya juga berwarna hitam.

Collocalia fuciphaga dan Collocalia maxima tidak dapat dibedakan dari Collocalia esculenta kecuali dari sarangnya. Collocalia maxima membuat sarang dengan air liur seperti fuciphaga tetapi sarangnya bercampur dengan bulu burung sehingga harga sarangnya lebih rendah. Namun demikian, karena keduanya membuat sarang dengan air liur dan sarangnya hanya sedikit berbeda, orang Indonesia menyebut Collocalia fuciphaga dan Collocalia maxima dengan nama burung walet. karena itu dalam skripsi ini akan digunakan kata burung walet untuk kedua jenis burung tersebut. Sementara sarang Collocalia esculenta sangat berbeda dari sarang burung walet karena esculenta membuat sarang dari daun, bulu burung dan hanya sedikit air liur. Orang Indonesia menamakan burung ini burung seriti dan harga sarangnya jauh lebih murah daripada sarang burung walet karena sarangnya hanya mengandung sedikit air liur. Harga sarang burung seriti kira-kira satu juta dua ratus ribu rupiah per kilogram sedangkan harga sarang burung walet antara tujuh juta sampai empat belas juta rupiah per kilogram tergantung kualitasnya.

Ada empat kelas sarang burung walet yang dihasilkan di Indonesia. Kelas keempat adalah sarang yang paling kotor sehingga harganya paling murah. Sarangnya sangat kotor karena telur walet sudah ditetaskan atau terbuat dari air kotor. Harga sarang kelas empat kira-kira tujuh sampai delapan juta rupiah per kilogram.

Kelas ketiga agak kotor tetapi terbuat dari air liur dan bulu burung. Sarang kelas tiga berharga kira-kira delapan sampai sembilan juta rupiah per kilogram. Sarang walet kelas dua tidak terbuat dari bulu burung tetapi sarangnya masih sedikit kotor. Kotornya bisa dikarenakan burung tersebut bertelur tetapi telurnya kemudian diambil setelah menetas. Harga sarang kelas dua kira-kira sepuluh sampai dua belas juta rupiah per kilogram.

Kelas yang tertinggi adalah sarang yang paling bersih, warnanya sangat putih dan tidak ada bulu burung. Sarang seperti ini adalah sarang yang paling banyak diminta dari pemilik gedung walet karena harga sarang ini paling tinggi, kira-kira dua belas sampai empat belas juta bahkan lebih per kilogramnya.

Disamping kelas-kelas sarang berwarna putih ada juga sarang burung walet yang berwarna merah. Sarang merah asli adalah sarang yang jarang didapat karena sarangnya terbuat dengan campuran air liur dan darah, tetapi sarang ini sangat jarang sehingga harganya merupakan yang tertinggi, kira-kira empat belas juta rupiah atau lebih per kilogram. Sarang burung walet juga bisa dibuat agar berwarna merah tetapi warnanya sedikit berbeda dengan sarang merah asli.

Untuk membuat sarang berwarna merah di dalam gedung walet harus mempunyai banyak air dan diberi campuran amoniak ke dalam airnya. Amoniak membantu sarang menjadi warna merah tetapi harga sarang ini tidak setinggi sarang merah asli. Harga sarang yang dibuat merah masih tergantung dengan kualitas sarang tetapi sedikit lebih mahal dari pada sarang putih biasa.

Read More … sejarah budidaya walet

abstrak Sarang burung walet adalah komoditas yang sangat berharga, oleh karena itu kemungkinan melakukan wawancara dengan petani atau pengusaha sarang burung walet agak sulit karena mereka tidak ingin memberikan informasi yang bisa membantu orang-orang lain yang ingin membuat gedung atau sudah mempunyai gedung sarang burung walet sehingga menyela penawaran dan permintaan.

Disamping itu, infomasi seperti berapa kilogram yang dihasilkan dari sebuah gedung sarang walet adalah infomasi yang sangat sensitif sehingga tidak menutup kemungkinan menarik datangnya pencuri atau perampok gedung sarang burung walet. jadi banyak sekali informasi yang belum terkumpul secara maksimal sehingga masyarakat belum mengetahui teknik budidaya walet secara lengkap.

MENUKAR TELUR

dari sekian banyaknya teknik budidaya walet untuk memperoleh hasil yang maksimal, Salah satu cara yang dipakai oleh petani-petani sarang burung walet untuk meningkatkan hasil dan menjamin kualitas sarang yang dihasilkan adalah dengan menukar telur burung seriti dengan telur burung walet, karena harga sarang burung seriti jauh lebih rendah daripada harga sarang burung walet. Sehingga, sesudah burung walet tersebut menjadi burung dewasa, dia akan kembali ke rumahnya untuk bertelur dan bersarang. Oleh karena itu, rumah pertanian sarang burung walet itu akan menjadi rumah sarang burung walet. Tetapi salah satu kelemahan metode ini adalah tidak semua burung yang menetaskan telur di gedung ini kembali lagi untuk bersarang. Sebagian besar burung tersebut hilang sehingga proses ini memerlukan waktu yang cukup lama untuk mengisi gedung dengan burung walet.

PENCURI

Pencuri sarang burung walet adalah ancaman utama dalam budidaya sarang burung walet. Oleh sebab itu, gedung-gedung walet yang besar harus memiliki penjaga dan pagar yang tinggi. Namun demikian terkadang pencuri nekat mengikat erat-erat penjaga kemudian mengelas pintu gedung walet sampai terbuka. Atau pencuri bisa juga masuk gedung lewat lubang keluar-masuk burung walet, jadi sebaiknya lubang tersebut tidak dibuat terlalu besar.

Biasanya pencuri sarang burung walet akan mencuri semua sarang di gedung walet, sehingga burung walet menjadi sangat tertekan dan menyebabkan burung walet pergi dari gedung itu untuk mencari lokasi lain yang lebih aman untuk bersarang. Karena itu, ancaman pencurian adalah masalah yang penting karena pencuri bukan hanya mengambil semua sarang-sarang yang berharga, tetapi juga kemungkinan semua burung walet akan pergi dan hilang sehingga pengusaha harus mulai dari nol lagi.

HAMA DI DALAM GEDUNG WALET

Selain pencuri, ada beberapa binatang yang sangat berbahaya bagi koloni burung walet. Serangga seperti kepinding, semut dan kecoa bisa masuk gedung dengan mudah dan memakan sarang burung walet sehingga harga sarangnya turun.

Cara yang sangat ampuh untuk membebaskan gedung walet dari serangga tersebut adalah dengan menggunakan racun bernama kapur ajaib. Racun ini harus ditempatkan di seluruh gedung terutama di tempat serangga bisa masuk gedung seperti lubang ventalasi. Racun tikus juga harus diletakkan di dalam gedung karena tikus sangat suka memakan sarang burung walet, sehingga menyebabkan burung walet menjadi stress dan mencari tempat lain yang lebih aman untuk bersarang. Racun tikus juga efektif untuk tokek karena tokek juga suka memakan sarang burung walet, terutama telur walet. Ini juga membuat burung walet stress dan menyebabkan burung pergi dari gedung.

Salah satu metode lain yang sangat efektif untuk menghentikan tikus dan tokek masuk gedung walet adalah dengan menambahkan pecahan kaca di seluruh lubang keluar-masuk burung walet sehingga hama-hama tersebut tidak bisa masuk. pecahan kaca juga termasuk mencegah Kelelawar dan burung hantu di dalam gedung walet sangat mengganggu kenyamanan burung walet sehingga menyebabkan walet menjadi takut dan kemudian pergi dari gedung itu.

Metode yang sangat efektif untuk menghentikan hama masuk gedung walet adalah dengan membuat kolam di seluruh fundamen. Serangga-serangga, tokek dan tikus tidak suka masuk air sehingga kolam di seluruh gedung akan menghalangi hama tersebut untuk memasuki gedung.

Hama walet adalah faktor yang sangat penting dalam budidaya sarang burung walet dan para pemilik gedung walet harus mengetahui cara-cara mengendalikan hama walet tersebut. Dalam melakukan budidaya sarang burung walet dan membangun gedung sarang burung walet. disamping desain gedung, ketinggian gedung, suhu dan kelembaban, membuat sirip diatap gedung dan lain lain

Read More … masalah dalam budidaya walet

sarang-burung-walet-01Budidaya sarang burung walet adalah industri yang istimewa dan sangat penting untuk beberapa orang seluruh  Indonesia terutama jawa timor. Sarang burung  walet terbuat dari air liur burung walet yang  dianggap mempunyai bermanfaat untuk kesehatan. Sarang tersebut biasanya  digunakan untuk membuat sop dan sebagian besar sarang  yang menghasilkan di Indonesia diekspor  ke  negara  China terutama Hong kong.

Burung  walet mula-mula  membuat sarangnya  di  atap gua, sehingga  untuk mengambil sarang burung walet sangatlah sulit dan berbahaya. Burung walet juga membuat sarang di dalam rumah-rumah yang  kosong. Oleh sebab itu orang-orang  membeli rumah yang  sudah disarangi oleh sekelompok burung  walet, kemudian  rumah itu di ubah menjadi rumah peternakan sarang  burung  walet. Karena budidaya  burung  walet  di dalam rumah-rumah kosong adalah  metode  yang  sangat efektif untuk menghasilkan sarang  tersebut, orang-orang  mulai membuat gedung  khusus untuk budidaya  sarang burung wallet. Ada  beberapa  faktor yang  sangat penting  untuk  budidaya  sarang  burung  walet, yaitu: lokasi, iklim, kondisi lingkungan, bentuk bangunan, faktor makanan serta  teknik memancing  walet. Semua

faktor ini  sangat penting untuk keberhasilan budidaya  sarang  burung  walet. Disamping  itu, gedung burung walet harus seperti gua liar karena itulah habitat asli burung walet.  Dalam budidaya sarang burung walet ada tiga golongan pemilik gedung walet, yaitu golongan atas, golongan menengah dan golongan karyawan. Golongan karyawan yang mempunyai gedung kecil dan teknologi yang kurang maju karena mereka tidak memiliki cukup modal. Selain itu golongan ini juga  membangun gedungnya  di wilayah dimana  mereka  tinggal dan senang  menghasilkan sarang burung seriti yang harganya sarang jauh lebih murah dari pada sarang burung walet, karena sarangnya memberikan penghasilan yang cukup bagi mereka

Pemilik dari golongan menengah juga  membangun gedung  walet di wilayah tempat tinggal mereka  dan juga  senang menghasilkan sarang  burung seriti, tetapi golongan  menengah membangun gedung lebih besar daripada golongan karyawan dan mempunyai pengetahuan dan teknologi yang lebih maju seperti tweeter sistem dan desain gedung. Sedangkan golongan atas juga mempunyai pengetahuan dan teknologi yang maju, mungkin lebih  maju daripada  golongan menengah, tetapi  golongan atas tinggal di kota besar dan membangun  gedung  walet di daerah manapun yang paling  cocok untuk budidaya sarang walet. Di samping itu, tujuan golongan atas adalah menghasilkan sarang burung walet saja, bukan sarang burung  seriti. Sehingga mereka  sering menukar  telur burung  seriti dengan telur burung walet dan menunggu lama  sampai panen, karena  mereka  menginginkan sarang burung  seriti untuk ditukar telurnya.

Kabupaten Blitar pernah mencoba berperan aktif dalam industri ini, misalnya dengan membuat buku, dan mengadakan  seminar tentang  bagaimana  budidaya  sarang  burung  walet, namun secara keseluruhan pemerintah  kabupaten Blitar  tidak  memainkan peranan besar dalam industri tersebut. Peran pemerintah kabupaten Blitar  dihalangi oleh para  pemilik gedung burung  walet yang  sudah berhasil, karena mereka tidak ingin pihak kabupaten terlibat dalam industri ini, sebab pemilik gedung walet khawatir jika mereka harus membayar lebih banyak uang pada pihak kabupaten. Sebagian besar pemilik gedung walet selalu berkata kepada pihak kabupaten bahwa gedung walet mereka belum berisi sarang burung walet dan belum panen sehingga mereka tidak harus membayar retribusi.

Tetapi tidak semua pemilik gedung walet tidak ingin kabupaten ikut berperan dalam industri ini, misalnya orang-orang yang gedung waletnya belum berhasil, jadi mereka ingin mendapat bantuan dari pihak kabupaten. Namun sebagian besar pemilik tidak ingin dibantu oleh kabupaten dan pemilik gedung walet ini tidak bersedia  membantu kabupaten  dengan memberikan data jumlah kilogram  sarang  yang  mereka hasilkan, sehingga  pihak kabupaten tidak bisa membuat data tentang jumlah total  sarang  yang dihasilkan di Blitar. Bagaimanapun, jika  kabupaten membuat hukum mengatakan bahwa  pemilik gedung  walet seharusnya  membuka  pintu gedung  kepada  kabupaten dan kabupaten secara  terus- menerus membuat pemilik membayar restribusi kepada kabupaten, kemudian uang ini bisa membantu kabupaten membuat industri ini bertambah.  

Read More … walet
Jumat, 07 Mei 2010

sarang-burung-walet-01 The farming of the Edible Nest Swiflet for their nests is an important industry for a number of people all  around  Indonesia especially  East Java.   The  nest from the Edible  Nest Swiftlet is made purely from the saliva of the bird, and is eaten for its health benefits. The nest is produced to make a soup and the  majority  of the nests  produced  in Indonesia are  exported to China with most  going  to Hong Kong.

The Edible Nest Swiftlet traditionally built its nests at the top of caves. As a result, it can be extremely  difficult  and  dangerous to  collect these  nests. They  also make  their nests  in the  rafters of empty houses.  Because of this, people buy houses that already have colonies of Swiftlets in them and turn these houses into commercial enterprises. Because this method is very effective, business people have built buildings especially designed to attract and farm these Swiftlet birds.  

To be  successful in farming  the  Edible  Nest Swiflet, there  are  a  number of  factors involved.  These  are: location, climate, the environment, building  design, availability  of food and technique  of attracting  the correct birds.   All these  factors are  equally  important in order to be  successful in this industry.  

Farmers of  the Edible  Nest Swiflet can be  categorised into three  distinct classes. These  are: upper, middle and lower class. The lower class owns small buildings and uses little technology. They  always build their birds nest buildings in the area in which they live and are happy to produce the nests  of the Seriti bird, which is easier to farm and is sold at a cheaper price than the Edible Nest Swiflet.

The middle class also build in the area in which they live and are also quite happy producing the  nest from the Seriti bird, however, the middle class build much larger buildings than the working class and use more advanced technology and methods.

The upper class use slightly more advanced technology and knowledge than the middle class, however, the upper class live in large cities and build their birds nest houses in areas which are most suitable for the farming of these birds.  The upper class farmers only aim to produce the nests of the Edible  Nest Swiftlets and not the Seriti bird nest. As a  result, this class uses a  number of  different methods and are willing to wait a number of years to become successful in this industry.

The  local government in  the district of  Blitar  in East Java  has attempted  to be  active  in this industry. For example, creating a book about farming methods as well as holding a seminar to discuss methods and thoughts on the industry. On the whole, however, the local government in Blitar plays a very minor role in this industry, collecting little tax from bird nest owners. When queried by the tax department, bird nest owners will frequently say they are yet to harvest the nests from their buildings in  order to escape having to pay tax. Bird nest owners who are unsuccessful in producing nests, however, are  very  interested in the local government playing  a  larger role  in this industry  so that they  can be
assisted in their enterprise.

Unfortunately, the majority  of bird nest owners do not wish to  cooperate with the local government in Blitar, making it very difficult for them to create data on the number of kilograms of nests  produced within Blitar.   If the local government created and enforced a  law  that allowed government workers to be given access to the birds nest buildings and inspect the number and quality of the nests this would ensure that the correct amount of tax is collected and that this money could be invested in ensuring that the industry survives. However, there are many obstacles to overcome such as corruption and lax  government attitudes before  the local government in Blitar  can say  they  play  a  positive role in this industry.

Read More … The farming of the Edible Nest Swiflet for their nests
Senin, 03 Mei 2010
sarang  hal pertama dalam menjalani usaha budidaya walet adalah memilih lokasi yang tepat. Dengan memilih lokasi dan kawasan yang memiliki prospek ke depan yang lebih bagus, maka penangkaran walet jangka panjang dapat menjadi lebih aman dan dapat memberikan pendapatan tetap yang berkepanjangan. menentukan Lokasi yang bagus untuk penangkaran walet bukan sekedar dilihat dari populasi burung walet yang besar.
  • Populasi banyak tapi miskin dengan koloni burung-burung walet yang muda, akan membuat kita frustrasi dalam memancing walet. hal ini biasanya disebabkan oleh pemanenan sarang yang tidak di barengi dengan regenerasi walet atau biasa disebut dengan istilah panen rampasan.
  • Populasi besar tapi di tempat yang kompetitornya banyak juga akan menguras energi, waktu dan modal yang lebih besar dalam mencapai keberhasilan.
  • Populasi banyak namun berada di kawasan yang mudah mengalami proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi (pemanasan global atau Global Warming) akan menyebabkan burung-burung walet relatif lebih cepat bermigrasi ke tempat yang lebih sesuai dengan habitatnya.
sarang2
  • Kawasan yang memiliki ekosistem yang sesuai dengan habitat walet dan terjaga keseimbangannya adalah hal yang sangat perlu untuk dipertimbangkan. Bahwa dengan extra feeding treatment memang bisa dilakukan untuk kawasan yang mulai menipis sumber pakannya namun merupakan pekerjaan tambahan yang perlu dipikirkan matang-matang. Hal ini bukan perkara mudah karena membutuhkan perhatian dan pekerjaan ekstra yang harus ditekuni.
  • Selain itu perlu dipikirkan pula, berapa persen dari jumlah serangga hidup hasil dari serangga ternakan yang bisa dimakan oleh walet dan berapa persen sisanya yang terbuang dan menjadi hama nantinya di lingkungan sekitar rumah walet. Dibutuhkan teknik yang benar-benar tepat dan aman untuk melakukan extra feeding treatment dengan menernak serangga.
  • Jika memungkinkan, menghindari daerah "perang suara" adalah pilihan yang lebih baik. Menangkarkan walet di daerah perang suara, harus berbekal banyak pengetahuan tentang ilmu menangkarkan walet terutama hal-hal yang berkaitan dengan suara walet. Tidak cukup hanya mempunyai lagu suara walet yang efektif saja, teknik tata suara pun menjadi modal besar yang harus dimiliki untuk perang strategi dalam perebutan menarik burung-burung walet muda. Dukungan dari tata ruang yang unik serta kestabilan iklim mikro rumah walet juga sangat mempengaruhi keberhasilan merumahkan walet.
 
Hal-hal tersebut di atas adalah bagian dari langkah-langkah awal yang perlu dipikirkan dan dipertimbangkan, agar dikemudian hari tidak menyulitkan dan menyusahkan kita dalam menangkarkan walet.  karena selain modal kita juga akan terkuras tenaga dan waktu hanya untuk sebuah harapan yang belum tentu akan memuaskan apa yang kita inginkan.
Merancang rumah walet.

Bentuk rumah walet dewasa ini memiliki beragam model dan desain disebabkan oleh pengaruh dari teknik-teknik pengelolaan yang makin modern dalam mengembangkan kemajuan budidaya walet. Secara garis besar, pembagian rumah walet berdasarkan antara lain pada:

  • Ukuran luas bangunan rumah walet.
  • Model polos atau sekat-sekatan.
  • Rumah satu tingkat atau lebih.

Elemen pokok yang terdapat dalam rumah walet antara lain terdiri dari:

  • Lubang pintu masuk orang.
  • Lubang masuk burung (LMB).
  • Lubang antar lantai (LAL) atau Void.
  • Lubang antar ruang (LAR).
  • Lubang inlet dan outlet udara atau Air Ventilation (AV).

Elemen pendukung yang terdapat dalam rumah walet antara lain:

  • Sekat dinding untuk membagi ruang per ruang.
  • Lagur atau sirip tempat walet membuat sarang.
  • Bak penampung air (kolam air) atau mesin pengabut.
  • Sound system.
  • Sarang imitasi.
  • Fan
  • Mechanical & Electrical (ME).

Pembagian ruangan-ruangan di dalam rumah walet antara lain:

  • Adaptation Room (AR)
  • Roving Room (RR).
  • Nesting Room (NR).
  • Equipments Room (ER).
  • Extra feeding production room (EFR).

Pada prinsipnya, rumah walet dibangun dengan tujuan agar walet mau masuk kemudian menginap dan betah untuk tinggal sehingga pada akhirnya membuat sarang seperti yang diharapkan dan dapat berkembag biak. Untuk mewujudkan hal ini dibutuhkan perencanaan awal yang matang. Idealnya adalah menyiapkan Rencana Anggaran Biaya (RAB) sesuai dengan desain rumah walet yang baik. Bukan sebaliknya, desain rumah walet disesuaikan dengan Rencana Anggaran Pelaksanaan (RAP) yang seadanya.

Memaksakan berdirinya sebuah bangunan rumah walet yang seadanya bisa berakibat terjadinya bongkar pasang yang pada akhirnya menjadi suatu pemborosan.
Tidak ada ukuran standar luas bangunan rumah walet maupun model desainnya. Namun meski demikian, prinsip dasar dalam menentukan ukuran luas minimal rumah walet tidak boleh diabaikan. Prinsip dasar ini berdasarkan pada kemudahan-kemudahan yang diperlukan oleh burung walet untuk melakukan manuver terbangnya. Baik secara horizontal maupun kecenderungan terbang secara vertical.

Memberikan kemudahan pada walet untuk melakukan manuver terbangnya bukan berarti harus membuat ruangan selapang-lapangnya. Ruangan yang berukuran relatif besar bisa berakibat burung baru akan sering berpindah-pindah tempat. Walet akan lebih lama menemukan tempat yang cocok untuk membuat sarang. Dan bisa menjadi fragile karena burung akan terpisah-pisah satu sama lain.

Adaptation Room (AR) adalah suatu ruangan yang berfungsi sebagai living adjustment sebelum walet berani melakukan eksplorasi lebih ke dalam dan dapat mencegah walet cepat keluar "tanpa merasa dijebak". Sebagai ruang perantara atau ruang transisi, maka sifatnya adalah optional. Jika memungkinkan, maka boleh dibuat.

Roving Room (RR) adalah ruang yang pertama kali dijelajahi oleh walet setelah melewati LMB. Sebenarnya tidak ada faktor signifikan yang membedakan antara Roving Room dengan Nesting Room, kecuali bila pada RR tersebut tidak diberikan sarana pendukung seperti pada NR. Dan memberikan perlakuan yang berbeda di antara keduanya, menurut pandangan saya itu adalah sebuah kekeliruan. Hal ini bisa dilihat pada contoh bentuk desain rumah walet minimalis, dimana RR dan NR menjadi satu dan tidak memiliki lubang antar lantai (LAL). Apabila terjadi pengembangan luas bangunan rumah walet akibat populasi yang mulai padat, apakah perlakuan terhadap ruangan tersebut akan berubah dan berbeda (karena berubah nama menjadi RR) dengan ruangan yang baru dibangun (NR)?

Lantas kenapa pada rumah walet yang sudah mempunyai ruangan RR dan NR yang terpisah sejak awal tidak diperlakukan hal yang sama di antara keduanya?
Karena kebanyakan orang menganggap bahwa RR adalah tempat numpang lewat walet menuju NR.

Nesting Room (NR) boleh dibilang sebagai tempat tujuan akhir setelah walet melakukan eksplorasi terhadap rumah walet. Oleh sebab inilah, maka NR mendapatkan porsi lebih dalam perlakuannya. Segala cara diupayakan di ruangan ini agar walet mau tinggal dan menginap selamanya serta mau membuat sarang seperti yang diharapkan semua penangkar walet. Di ruangan ini pula segala aplikasi yang diterapkan diamati dengan seksama. Mulai dari pola nesting plank dan bahan material yang dipakainya, suara walet yang dibunyikan, sampai dengan perubahan iklim mikro yang terjadi di dalamnya.
Equipments Room (ER) adalah ruang yang digunakan untuk menyimpan segala peralatan yang berkaitan dengan pengelolaan rumah walet, seperti; peralatan untuk panen sarang walet, sound system, dan alat-alat lainnya agar tidak mudah rusak karena pengaruh kelembaban yang tinggi.

Extra feeding production room (EFR) dipersiapkan bila ada rencana untuk memproduksi sendiri serangga yang diternak sebagai makanan tambahan bila memasuki musim kemarau.

Lubang masuk burung (LMB) adalah termasuk elemen yang terpenting dari rumah walet. Merencanakan ukuran dan posisi peletakan LMB tergantung pada lokasi dan desain rumah walet itu sendiri. Seperti pada lokasi yang bebas dari predator pemangsa walet (seperti burung hantu) bisa dibuat dengan ukuran yang relatif lebih besar.

Untuk mengetahui posisi peletakan LMB yang paling baik, bisa dibuatkan LMB pada tiap-tiap sisi dindingnya lebih dahulu. Setelah mengetahui posisi LMB yang paling efektif dimasuki burung walet, maka lubang-lubang lainnya dapat ditutup kembali.
Apabila terdapat lebih dari satu LMB yang sama-sama efektif, maka perlu disesuaikan kembali desain tata ruangnya agar tidak terjadi "kebocoran". Kebocoran yang dimaksud di sini adalah burung yang masuk dari LMB yang satu, tidak cepat keluar lagi lewat LMB yang lain. Jika penyesuaian desain tata ruang tidak memungkinkan, maka sebaiknya dipilih satu saja LMB yang terbaik.

Lubang antar lantai (LAL) adalah bagian dari salah satu elemen rumah walet yang menghubungkan ruang pada lantai yang satu dengan ruang pada lantai yang lainnya. pada rumah walet bertingkat, ukuran dan posisinya ditentukan oleh ukuran ruangan tersebut dan ketinggian plafondnya.

Dibandingkan dengan LMB, maka LAL mempunyai kelemahan bila dilihat dari sisi kemudahan walet melakukan manuver terbangnya. Tanpa elemen pendukung, maka walet-walet baru yang melakukan eksplorasi di tempat tersebut akan relatif lama beradaptasinya. Penggunaan suara walet dan pemasangan tweeter yang tepat adalah elemen pendukung yang paling tepat untuk menuntun walet-walet baru tersebut menyusuri dan melewati LAL.

Lubang antar ruang (LAR) adalah bagian yang lain dari elemen rumah walet yang menghubungkan ruang yang satu dengan ruang yang lainnya pada satu lantai yang sama. LAR bisa dibuat relatif lebih kecil (baca: sempit) ukurannya daripada LAL karena cara manuver terbangnya yang sama seperti ketika memasuki LMB.

Lubang inlet dan outlet udara atau Air Ventilation (AV) adalah lubang-lubang kecil yang dibuat pada dinding untuk keperluan mengatur keseimbangan kondisi suhu dan kelembaban di dalam rumah walet agar sesuai dengan habitat walet. Fungsi lain dari Lubang ventilasi adalah dapat menciptakan pola aliran udara sedemikian rupa di dalam rumah walet, sehingga dapat membantu mengarahkan burung masuk lebih ke dalam. Oleh karena itu jumlah lubang udara (AV) sangat relatif, tergantung pada kebutuhan yang disesuaikan dengan desain rumah waletnya.

Sekat dinding dibutuhkan pada rumah walet yang berukuran cukup besar sebagai pembatas/pemisah ruangan. Sekat-sekat ini bukan hanya sekedar untuk membagi ruang per ruang, tetapi juga berfungsi untuk menstabilkan suhu dan kelembaban di dalam rumah walet, mencegah terjadinya cross ventilation, mengurangi intensitas cahaya yang masuk, meredam polusi suara dari luar rumah walet, mempermudah burung menghapal tempat sarangnya, dan lain sebagainya.

Lagur atau sirip merupakan sarana tempat walet membuat sarang. Penataan polanya mengikuti tata ruang rumah walet yang ada. Lagur ini bisa dibuat dari beberapa bahan material, seperti; kayu, beton cor, aluminium, dan lain sebagainya. Lebarnya mulai dari 12cm hingga 20cm. Jarak antar lagurnya pun bervariasi, mulai dari 20cm hingga 50cm.
Pola pemasangan nesting plank sangat beragam, namun yang paling umum dipakai peternak walet adalah model kotak-kotak (kotak tahu) dan model garis-garis sejajar. Ada juga pola model piramid terbalik atau model susun anak tangga terbalik.

Apapun bahan material dan bentuk modelnya, nesting plank harus memiliki sifat yang kokoh, kasar permukaannya dan tahan lama. Untuk mempercepat dan mempermudah burung-burung muda belajar membuat sarang untuk pertama kalinya, maka sebaiknya diberikan sarana tambahan pada nesting plank tersebut berupa sarang buatan (imitasi) atau potongan dari styrofoam atau apapun yang dapat menjadi dudukan pondasi awal sarang walet. Bisa juga dibuatkan alur (groove) pada nesting plank tersebut. Treatment pada nesting plank akan menentukan berhasil tidaknya pengembangan populasi di kemudian hari.

Bak penampung air (kolam air) atau mesin pengabut sangat membantu untuk menaikkan kadar air di udara pada rumah walet di kawasan beriklim panas. Kelembaban (RH) yang mencapai kestabilan ideal sangat mempengaruhi walet dalam membuat sarangnya. Terlalu kering atau terlalu lembab akan menyulitkan walet membuat sarang. Selain itu juga akan berakibat menurunkan grade sarang.

Sound system saat ini sudah menjadi jantung dalam budidaya walet. Bahkan boleh dibilang, tanpa ada sound system di rumah walet maka bukanlan sebuah rumah walet. Demikian penting perannya, sehingga elemen pendukung yang satu ini banyak mendapatkan porsi perhatian yang paling besar, sehingga kemajuan perkembangannya dalam teknik dan aplikasinya sangat pesat. Mulai dari yang konvensional sampai yang modern. Mulai dari yang sederhana sampai yang rumit. Maka bila kita berbicara soal sound system dan suara walet, tentunya akan menyita waktu yang sangat panjang dan seolah-olah tidak ada habisnya.

penggunaan sound system dalam dunia perwaletan masih dengan sistem suara mono. Maksudnya, lagu suara walet yang digunakan untuk suara panggil (suara luar) sama jenis lagu suaranya dengan suara untuk di dalam rumah walet (suara inap). Kemudian maju setahap lebih maju, yaitu lagu suara walet untuk memanggil walet berbeda dengan lagu suara walet untuk membuat walet mau menginap. Perkembangan berikutnya adalah, lagu suara panggil memakai dua lagu suara walet yang berbeda, begitu juga untuk suara inap memakai sedikitnya dua macam lagu suara walet. Dan belakangan ini, teknik tata suara walet sudah memanfaatkan teknik surround. Aplikasi teknik surround dalam dunia perwaletan berbeda dengan aplikasi teknik surround seperti dalam home theater. Dalam dunia walet, tidak dibatasi oleh sistem 5.1 atau 7.1, tetapi bisa mencapai belasan bahkan puluhan tweeter. Tergantung kesanggupan sang composer dalam membuat lagunya. Hal ini memang masih baru dan belum lazim diterapkan dalam dunia budidaya walet.
Dibandingkan dengan sistem tata suara walet yang sederhana, tentu saja sistem tata suara walet dengan menggunakan teknologi surround akan memiliki selisih yang jauh dalam hal besarnya biaya. Tingkat kesulitan dalam pembuatannya pun juga jauh lebih rumit. Sebandingkah efektifitas yang dihasilkannya? Hal ini pun belum pernah dipublikasikan. Bagi penangkar walet yang merasa "sudah puas" dengan apa yang ada, tentu teknik tata suara walet seperti ini tidak akan diminati.

Read More … memulai budidaya walet