penelitian tanaman gaharu (2)
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa delapan jenis isolat yang diuji cukup efektif dalam pembentukan gaharu, Hal ini dapat diketahui dari perubahan fisik yang terjadi pada jaringan batang yang ada di sekitar lubang inokulasi, yaitu adanya perubahan warna yang bervariasi dari coklat muda sampai coklat tua dengan panjang dan lebar area yang terinfeksi juga bervariasi. Selain itu dari uji aroma yang dilakukan dengan pembakaran didapatkan hasil bahwa beberapa isolat cukup potensial menghasilkan gaharu, hal ini dapat diketahui dari potongan kayu yang terinfeksi dari sejumlah isolat tersebut setelah dikeringkan secara alami dan dibakar mengeluarkan aroma wangi gaharu. Berdasarkan hasil pengamatan dan pengukuran pengaruh perlakuan jenis isolat terhadap variabel yang diamati, didapatkan hasil analisis varian (uji F) yang ditampilkan pada Tabel
Berdasarkan hasil anava diketahui bahwa semua perlakuan memberikan hasil berbeda sangat nyata terhadap variabel pengamatan kecuali pengukuran aroma. Selengkapnya hasil DMRT semua variabel yang berbeda sangat nyata disajikan dalam Tabel 2. Berdasarkan Tabel 2 diketahui bahwa dari delapan jenis isolat yang diuji didapatkan 4 isolat (Acremonium sp, Cephalosporium sp.), Cylindrocarpon sp. dan Fusarium lateritium) memberikan pengaruh yang sama terhadap rata- rata ukuran diameter lubang inokulasi. Tetapi efektivitas keempat isolat tersebut berbeda nyata dengan empat isolat lainnya (F.fusariodes, F.solani, F.nivale dan F.roseum).
Keempat isolat yang disebutkan terakhir memberikan hasil yang sama satu sama lain terhadap efektivitasnya pada rata-rata ukuran diameter lubang inokulasi. Rata- panjang area infeksi terbesar dihasilkan oleh isolat Cylindrocarpon (J1) sebesar 5.850 cm. Hasil ini berbeda sangat nyata dengan ketujuh isolat lainnya (Tabel 2). Tetapi enam isolat (F.solani, F. nivale, Acremonium sp., F. roseum, F.fusariodes dan Cephalosporium sp) memberikan hasil yang sama satu sama lain terhadap efektivitas pembentukan panjang area infeksi.
Isolat yang memberikan hasil rata-rata panjang area infeksi terkecil adalah F.lateritium yaitu sebesar 2.340 mm, tetapi hasil ini tidak berbeda nyata dengan efektivitas isolat F. roseum, F.fusariodes dan Cephalosporium sp.Isolat yang memberikan hasil pembentukan
merata.
lebar area infeksi terbesar adalah Cylindrocarpon sp., tetapi hasilnya tidak berbeda nyata dengan efektivitas isolat Fusarium nivale dan Fusarium solani (Tabel 2). Hasil ketiga isolat tersebut berbeda nyata dengan kelima isolat lainnya.
Diketahui juga bahwa efektivitas empat isolat (Acremonium sp., Fusarium fusariodes, Fusarium roseum, dan Cephalosporium sp ) sama terhadap pembentukan rata-rata lebar area infeksi. Rata-rata lebar area infeksi terkecil dihasilkan isolat Fusarium lateritium.Isolat Cylindrocarpon sp. menghasilkan rata-rata skor warna paling baik yaitu mendekati 2 (1.967), tetapi hasil ini tidak berbeda nyata dengan kelima isolat lainnya (Fusarium solani, Fusarium roseum, Fusarium fusariodes, Fusarium nivale dan Cephalosporium sp.) (Tabel 2). Rata-rata skor warna terkecil dihasilkan isolat Fusarium lateritium , tetapi hasilnya sama dengan rata-rata skor warna yang dihasilkan
ketiga isolat yaitu Fusarium nivale, Cephalospo-rium sp. dan Acremonium sp.
Berdasarkan hasil pengamatan dan pengukuran terhadap variabel yang diamati (diameter lubang inokulasi, panjang area infeksi, dan lebar area infeksi) selama 6 bulan di lapangan dan dilanjutkan dengan pengukuran dan pengamatan warna kayu gubal dan aroma kayu gubal yang terbentuk yang dilaksanakan di laboratorium selama 1 bulan karena membutuhkan pengeringan alami, didapatkan hasil secara keseluruhan kedelapan isolat yang diuji efekttivitasnya dalam menginduksi resin gaharu cukup efektif. Hal ini ditandai dari hasil yang didapatkan bahwa variabel yang diukur memberikan hasil yang baik dan signifikan, kecuali terhadap pengujian aroma.
Berdasarkan hasil analisis varian (anava) uji F, diketahui bahwa perlakuan jenis isolat berpengaruh sangat nyata terhadap perubahan ukuran diameter lubang inokulasi. Hasil pengukuran ukuran diameter lubang inokulasi pada akhir pengamatan (bulan ke-6 setelah inokulasi), didapatkan hasil yang bervariasi, yaitu sejumlah isolat menghasilkan ukuran diameter lubang inokulasi yang bertambah besar dari ukuran awal pada waktu inokulasi ( 8 mm), sedangkan sejumlah isolat lainnya menyebabkan terjadinya penyembuhan pelukaan yaitu mengecilnya ukuran diameter lubang inokulasi (< 8 mm).
Berdasarkan hasil uji lanjut diketahui bahwa isolat Acremonium sp. memberikan hasil pertambahan ukuran diameter lubang inokulasi yang terbesar dan tidak berbeda nyata dengan Cephalosporium sp. (j8), Cylindrocarpon sp. (j2) dan Fusarium lateritium (j7). Hal ini dapat diartikan bahwa dengan kehadiran keempat isolat tersebut menyebabkan terjadinya pelapukan pada batang A.malaccensis, yaitu ditandainya dengan bertambahnya ukuran diameter lubang inokulasi.
Apabila dilihat dari hasil pengukuran, pertambahan ukuran diameter tersebut sangat kecil sekali yaitu kurang dari 1 mm, tetapi hal ini tetap menjadi perhatian karena data yang didapatkan berasal dari pengamatan yang dilakukan baru 6 bulan, diduga dengan bertambahnya waktu kemungkinan pertambahan diameter lubang inokulasi dapat terjadi, sebaliknya, dari isolat Fusarium fusariodes (j5) memberikan hasil tidak terjadi pertambahan ukuran diameter lubang inokulasi (tetap) karena menghasilkan rata-rata 8.067 mm, sedangkan ketiga isolat lainnya yaitu Fusarium solani (j4), Fusarium nivale (j3) dan Fusarium roseum (j6) memberikan hasil berupa berkurangnya ukuran diameter lubang inokulasi (kurang dari 8 mm). Hal ini dapat diartikan bahwa terjadinya penyembuhan luka pada lubang inokulasi.
Pengukuran terhadap panjang area yang terinfeksi yang menunjukkan terjadinya deposisi resin dilakukan pada akhir pengamatan bulan keenam setelah inokulasi. Berdasarkan hasil anava uji F diketahui bahwa perlakuan jenis isolat memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap ukuran panjang area yang terinfeksi.
Isolat Cylindrocarpon sp. memberikan hasil
terbaik yaitu menghasilkan panjang area terinfeksi
paling besar yaitu 5.850 cm dan berbeda nyata
dengan ketujuh isolat lainnya. Hal ini menunjukkan
bahwa dari delapan jenis isolat yang diuji
didapatkan hasil bahwa Cylindrocarpon sp
memiliki efektivitas paling tinggi untuk menginfeksi
kayu A. malaccensis. Dengan lama pengamatan
baru 6 bulan dengan kemampuan menghasilkan
panjang area yang terinfeksi sebesar 5.850 cm
diduga dengan bertambahnya waktu pengamatan
setelah inokulasi maka panjang area yang
terinfeksi juga dimungkinkankan bertambah.
Isolat yang memberikan hasil rata-rata
panjang area yang terinfeksi paling kecil yaitu
Fusarium lateritium (j7), tetapi hasilnya tidak
berbeda nyata dengan Fusarium roseum (j6,)
Fusarium fusariodes (J5) dan Cephalosporium
sp (j8). Hal ini menunjukkan bahwa efektivitas
keempat isolat tersebut menginfeksi pohon
A.malaccensis pada penelitian ini cukup rendah.
Pengukuran terhadap lebar area yang
terinfeksi yang menunjukkan terjadinya deposisi
resin dilakukan pada akhir pengamatan bulan
keenam setelah inokulasi. Berdasarkan hasil anava
uji F diketahui bahwa perlakuan jenis isolat
memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap
ukuran lebar area yang terinfeksi.
Isolat Cylindrocarpon sp. memberikan hasil
terbaik yaitu menghasilkan rerata lebar area
terinfeksi paling besar yaitu 1.457 cm dan berbeda
nyata dengan ketujuh isolat lainnya. Hal ini
menunjukkan bahwa dari delapan jenis isolat yang
diuji didapatkan hasil bahwa Cylindrocarpon sp
memiliki efektivitas paling tinggi untuk menginfeksi
kayu A. malaccensis. Dengan lama pengamatan
baru 6 bulan dengan kemampuan menghasilkan
lebar area yang terinfeksi sebesar 1,457 cm
diduga dengan bertambahnya waktu pengamatan
setelah inokulasi maka lebar area yang terinfeksi
juga dimungkinkankan bertambah.
Efektivitas isolat Cylindrocarpon sp dalam
menghasilkan lebar area yang terinfeksi tidak
berbeda nyata dengan isolat Fusarium nivale (j3)
dan Fusarium solani (j4), sedangkan isolat
Fusarium lateritium (j7) memiliki efektivitas
paling rendah karena menghasilkan rerata lebar
area infeksi paling kecil yaitu sebesar 1.020 cm.
Apabila dibandingkan antara hasil
pengukuran panjang area terinfeksi dengan lebar
area terinfeksi, diketahui bahwa pertumbuhan
deposit resin yang terbesar terjadi secara vertikal,
dimana panjang area terinfeksi lebih besar
dibanding lebar area terinfeksi. Hal ini sesuai
dengan pertumbuhan ukuran dari struktur sel
jaringan kayu bahwa panjang sel jaringan kayu
678 µm dan lebar jaringan kayu 6-7 µm
(Departemen Kehutanan, 2004).
Isolat yang memiliki efektivitas paling tinggi
dalam menghasilkan panjang dan lebar area yang
terinfeksi pada penelitian ini adalah
Cylindrocarpon sp. sedangkan jamur
Acremonium sp. memiliki efektivitas sedang dalam
menginfeksi pohon A.malaccensis, hal ini dapat
dilihat dari rerata panjang dan lebar area terinfeksi
dan perubahan warna kayu yang dihasilkan tidak
terlalu baik.
Efektivitas isolat dalam menginfeksi pohon
inangnya bervariasi tergantung kepada kondisi
lingkungan tempat tumbuh pohon inang yang
sekaligus juga dipengaruhi oleh kesesuaian
lingkungan tumbuhnya isolat jamur tersebut.
Beberapa penelitian yang telah dilakukan
melaporkan bahwa banyak jenis jamur yang
potensial sebagai penginduksi resin pohon gaharu,
tetapi keefektifannya ditentukan dengan
kesesuaian dengan tanaman inang dan
lingkungannya. Beberapa jenis jamur yang telah
berhasil diisolasi dari pohon gaharu asal Riau antara
lain Fusarium, Trichoderma, Diplodia,
Scytalidium dan Thielaviopsis. Dari pohon
gaharu asal Mataram jenis jamur Acremonium sp.,
sedangkan di Kalimantan Barat ditemukan jamur
Fusarium oxysporum, F. bulbigenium, F.
laseritium, Botryiodiplodia sp, dan Phytium sp.
(Ramadhani, etal., 2005 : Ngatiman dan
Armansyah, 2005).
Direktorat Bina Perhutanan Nasional (2005)
melaporkan bahwa cendawan yang berasosiasi
dengan kayu gaharu di beberapa negara bervariasi
misalnya Cercosporella, Chaetomum,
Cladosporium, Curvularia, Diplodia,
Pestalotia, Phialogeniculata, Pithomyces,
Rhizopus, Spiculostillela, dan Trichoderma.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Sidiyasa
dan Suharti (1987) dalam Basri (2005) didapatkan
adanya variasi berbagai jenis jamur seperti
Diplodia sp, Phytium sp. dan Fusarium solani
yang diduga mempunyai peranan penting dalam
pembentukan dammar gaharu. Tuswal dalam
Beniwal (1989) melakukan penelitian terhadap
pohon Aquilaria malaccensis di Assam
mendapatkan jenis jamur Aspergillus, Penicillium
dan Fusarium. Dilaporkan juha bahwa penelitian
di India telah menemukan adanya jenis jamur lain
yang terdapat pada bagian yang berdamar gaharu
seperti Torula cylindrocephalum, Ganoderma
lucidium dan Epicoccum granolosum.
Maryani et al. (2005) melaporkan bahwa
salah satu mikroorganisme penginduksi gejala
terbentuknya senyawa gaharu adalah
Acremonium spp. Di antara banyak isolat
Acremonium, isolat F dan M telah dibuktikan dapat
merangsang pembentukan wangi pada tunas in
vitro A. malaccensis, A. microcarpa dan
A.crassna dan Gyrinops versteghii. Kedua isolat
ini juga telah dibuktikan mampu menginduksi gejala
pembentukan gubal pada pohon muda.
Pengamatan perubahan warna kayu yang
terinfeksi dilakukan pada waktu 6 bulan sesudah
inokulasi, dilakukan dengan menyayat kulit batang
setebal 3 cm lebih hingga terlihat bagian jaringan
kayu yang telah terinfeksi dan mengalami
perubahan warna. Apabila dibandingkan dengan
jaringan kayu pada pohon yang sehat (tidak
terinfeksi), maka pada pohon yang sehat apabila
disayat jaringan kayunya berwarna putih kuning
muda dan berubah warna sesaat karena adanya
getah pohon dan oksidasi yang terjadi. Tetapi pada
pohon gaharu yang terinfeksi oleh jamur, jaringan
kayunya akan menunjukkan warna coklat muda,
coklat tua (gelap) dan bahkan kalau sudah sampai
ke tingkat infeksi lanjut akan menunjukkan warna
hitam atau kehitaman yang permanen.
Perubahan warna jaringan kayu terutama di
sekitar lubang inokulasi terjadi karena adanya
pelukaan dan infeksi jamur (inokulum). Hal ini
menyebabkan tanaman memproduksi metabolit
sekunder yang terakumulasi pada jaringan kayu.
Luka pada batang akibat pengeboran dapat
merangsang sistem pertahanan tanaman dimana
pada akhirnya akan menyebabkan tanaman
memproduksi metabolit sekunder sejenis
sesquiterpenoid (Umboh, 2005). Metabolit
sekunder berupa resin secara genetik sudah
dikandung oleh beberapa jenis pohon penghasil
gaharu, tetapi aktivitas resin ini baru bisa dipacu
dengan adanya perlakuan eksternal yaitu pelukaan
dan adanya jamur patogen yang sesuai.
Adanya pelukaan (pengeboran) pada batang
pohon penghasil gaharu seperti pada A.
malaccensis menyebabkan isolat jamur patogen
lebih mudah menginfeksi tanaman. Pada jenis
jamur yang memiliki tingkat virulensi tinggi seperti
Cylindrocarpon sp. dapat mempengaruhi jumlah
akumulasi resin yang terdapat dalam jaringan kayu.
Hal ini juga didukung oleh kondisi pohon inang
A.malaccensis yang sehat, dimana tanaman dapat
merespon lebih cepat adanya infeksi jamur yang
menyebabkan tanaman dapat segera membentuk
metabolit sekuder sebagai sistem pertahanan dari
tanaman tersebut. Sebaliknya pada jenis jamur
yang memiliki virulensi rendah pada tanaman yang
rentan kemungkinan resin tidak akan terbentuk
ataupun kalau terbentuk sangat sedikit sekali.
Kayu yang diinfeksi oleh jamur patogen akan
menghasilkan warna lebih gelap, hal ini disebabkan
adanya oleoresin. Menurut Mogea et al. (2001)
batang A.malaccensis yang terinfeksi mengeluar-
kan senyawa oleoresin dari jenis sesquiterpene
yang menyebabkan jaringan kayu berwarna coklat
sampai hitam. Intensitas warna yang terjadi pada
jaringan kayu dipengaruhi jumlah resin yang
dikandungnya.Semakin banyak kandungan resin
gaharu yang terdeposit dalam jaringan kayu maka
akan semakin gelap pula warna kayu yang
ditimbulkannya dan semakin baik kualitasnya,
sehingga warna kayu gubal merupakan salah satu
dasar dalam menentukan kualitas gubal gaharu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor
warna yang ada pada jaringan kayu yang terbentuk
pada pohon uji memiliki rerata mencapai 2 (> 1),
hal ini menunjukkan warna coklat tua. Dengan
demikian kedelapan isolat yang diuji berpotensi
menginfeksi pohon A.malaccensis, teatpi
efektivitasnya bervariasi. Isolat yang paling efektif
adalah Cylindrocarpon sp. dan yang memiliki
efektivitas rendah yaitu Fusarium lateritium.
Kualitas gaharu yang tinggi dapat ditentukan
dari aromanya sebelum atau sesuah dibakar. Hasil
uji organoleptik yang dilakukan dengan delapan
responden, dimana tiga diantaranya adalah praktisi
gaharu yaitu telah mengenal aroma khas gaharu
dengan baik, selebihnya adalah mahasiswa dan
laboran yang terlibat dalam penelitian gaharu.
Berdasarkan hasil analisis varian (anava) uji
F, perlakuan jenis isolat memberikan pengaruh
tidak berbeda nyata terhadap pengukuran aroma.
Hal ini berarti delapan isolat yang diuji memiliki
efektivitas yang sama terhadap aroma yang
dihasilkan. Hasil rerata skor aroma yang didapat
berkisar 1-2 yaitu berarti tanpa dibakar belum
wangi, setelah dibakar wangi tetapi sangat lemah,
menyengat dan tanpa dibakar aroma wangi lemah
menyengat, setelah dibakar wangi kuat, sedikit
menyengat. Hasil ini menunjukkan bahwa delapan
isolat uji tersebut berpotensi untuk menginfeksi
gaharu tetapi efektivitasnya bervariasi.
Dengan hasil skor aroma yang didapat dan
dihubungkan dengan lama waktu penelitian yang
dilakukan selama 6 bulan setelah inokulasi, maka
diduga dengan bertambahnya waktu pengamatan
setelah waktu inokulasi maka aroma yang
dihasilkan nantinya dapat lebih wangi (mencapai
skor 3).
Aroma wangi yang dihasilkan dari kayu
pohon penghasil gaharu yang terinfeksi jamur
patogen tersebut terbentuk karena adanya
senyawa resin yang merupakan metabolit sekunder
yang dihasilkan tanaman akibat respon terinfeksi
jamur pathogen. Metabolit sekunder tersebut
banyak mengandung senyawa kimia. Ng et al.
(1977) dalam Sumadiwangsa (2002) menyatakan
bahwa A. malaccensis mengandung aneka
senyawa kimia seperti : agarotetrol, isaagarotetrol,
hydroxyl chromone, methoxy chromone, dimetoxy
chromone, dihidroxy chromone. Sedangkan
senyawa yang menyebabkan aroma wangi pada
gaharu adalah senyawa guia dienal, selina-dienone
dan selina dienol.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dari sejumlah
variabel pengukuran yaitu ukuran diameter lubang
inokulasi, panjang dan lebar area yang terinfeksi,
perubahan warna jaringan kayu dan uji
organoleptik penentuan aroma kayu yang
terinfeksi, disimpulkan bahwa isolat
Cylindrocarpon sp. merupakan isolat yang paling
efektif menginfeksi pohon A.malaccensis karena
menghasilkan nilai dan skor terbaik terhadap
semua variabel uji.
penelitian tanaman gaharu (1)
Hartal dan GuswarniAnwar
Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu
Jln Raya Kandang Limun Bengkulu 38371A
hartal@unib.ac.id
Tanaman gaharu Aquilaria malaccensis merupakan tanaman hutan yang menghasilkan hasil hutan non kayu yang bernilai ekonomi tinggi karena tanaman ini dapat memproduksi gubal gaharu yang aromanya harum karena mengandung damar wangi (aromatic resin) sebagai akibat adanya serangan jamur.
Gubal gaharu sebagai komoditi elit bermanfaat untuk keperluan industri parfum, kosmetik, tasbih dan obat-obatan. Komoditi ini mempunyai harga jual yang sangat tinggi dan terus meningkat dari tahun ke tahun. Terbentuknya gaharu secara alami berkaitan dengan proses patologis yang disebabkan beberapa jenis mikroba patogen pembentuk gaharu.
Keberadaan jamur tersebut dapat direkayasa dengan mengisolasinya dari berbagai sumber yang dapat dijadikan inokulum untuk menginduksi pohon gaharu. Penyediaan inokulum yang efektif dan sesuai dengan lingkungan, mutlak diperlukan untuk menghasilkan kayu gubal gaharu yang berkualitas sehingga memiliki nilai jual yang tinggi.
Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan jenis jamur yang efektif sebagai penginduksi resin untukproses membentuk kayu gubal gaharu yang berkualitas tinggi yang akan dijadikan sebagai inokulum siap pakai oleh petani gaharu ataupun masyarakat yang akan membudidayakan pohon gaharu.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Jurusan Perlindungan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu dan kebun penduduk Dusun Tanjung Dalam Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Utara, Penelitian ini merupakan penelitian tahun kedua yang dilakukan di lapangan dengan menguji efektivitas isolat jamur yang dijadikan inokulum. Inokulum dibuat dilakukan dengan metode kultivasi isolat jamur pembentuk gaharu dan uji kemampuan (efektivitas) jenis jamur pembentuk gubal gaharu pada tanaman gaharu.
Kegiatan kultivasi adalah memperbanyak isolat murni dari spesies jamur terpilih yang didapat pada percobaan tahun pertama dan diremajakan dalam bagian jaringan pohon
kayu gaharu yang telah disterilkan, kemudian diinkubasikan pada suhu ruangan (28 0C) selama tujuh hari. Isolat ini digunakan sebagai sumber inokulum pada percobaan uji efektivitas jenis jamur pembentuk gubal gaharu pada pohon tanaman gaharu yang telah disiapkan pada peneliitan sebelumnya (tahun pertama).
Inokulasi lubang pohon dengan inokulum yang telah dibuat dari hasil kultivasi dari bagian pohon tanaman gaharu. Inokulasi dilakukan dengan cara memasukkan inokulum potongan batang kayu gaharu yang telah diinokulasi jenis jamur perlakuan ke setiap lubang bor. Label perlakuan yang terbuat dari plastik mika dipakukan pada pohon sehingga tidak mudah rusak. Penutupan lubang yang telah diinokulasi dengan menggunakan sumbat dari potongan karet, sehingga dapat dipastikan bahwa sumbat tersebut menutup penuh lubang inokulasi dan tidak akan terlepas, dan air tidak dapat masuk ke dalam lubang bila ada hujan.
Pengamatan pembentukan gaharu dilakukan 6 bulan setelah inokulasi. Pemeriksaan lubang untuk mengetahui pembentukan gaharu dilakukan dengan cara menyayat/ mengupas kulit batang yang terjadi pembentukan gaharu. Ciri-ciri dari pembentukan gaharu biasanya kulit batang menjadi lunak, dan setelah disayat/dikupas pada bagian kayu berubah warna dari warna coklat hingga coklat kehitaman. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan faktor tunggal adalah jenis jamur terpilih pada penelitian tahun pertama yaitu:
j1 = Acremonium sp.,
j2 =Cylindrocarpon sp.,
j3 = Fusarium nivale,
j4 =Fusarium solani,
j5 = Fusarium fusariodes,
j6 =Fusarium roseum
j7 = Fusarium lateritium dan
j8 = Chepalosporium sp.
Inokulasi dilakukan pada 12 pohon, perlakuan empat jenis jamur diinokulasikan pada enam pohon dan empat jenis lainnya pada enam pohon lainnya, dengan ulangan masing-masing perlakuan lima kali, sehingga didapatkan 240 satuan percobaan. Variabel yang diamati dan diukur adalah :
-
Perubahan warna, yaitu dengan menyayat kulit kayu di sekitar lubang inokulasi sehingga kelihatan kayu hasil inokulasi. Warna yang terbentuk dicatat dengan panduan gambar Santoso et al. (2006). Kriteria yang diamati adalah perubahan dari warna putih, coklat muda, coklat tua dan hitam. Skor warna yang digunakan dengan kriteria : 0 (warna kayu tidak berubah (putih), 1 (warna kayu coklat muda), 2 (warna kayu coklat tua) dan 3 (warna kayu hitam)
-
Panjang area deposisi resin. Dilakukan dengan cara mengukur panjang warna resin yang terbentuk (panjang vertikal dan horizontal) mulai dari tepi lubang bor sampai ujung warna yang terbentuk dengan menggunakan kertas milimeter.
-
Perubahan ukuran diameter lubang. Pengukuran diameter lubang dimaksudkan untuk mengetahui apakah terjadi pelapukan atau tidak Jika ukuran lubang inokulasi semakin besar berarti kayu mengalami pelapukan. Perubahan diameter lubang diukur dengan kertas milimeter.
Perkembangan aroma.
Perkembangan aroma diamati oleh tiga orang ahli gaharu sebagai perbandingan untuk mendapatkan skor aroma yang objektif. Selain itu juga melibatkan responden yang lain dari kalangan umum (mahasiswa dan laboran). Dilakukan dengan cara mengambil sebagian kayu hasil inokulasi kemudian membakarnya (Badan Standarisasi Nasional, 1999). Skor dan kriteria yang digunakan yaitu : 0 (tanpa dibakar tidak ada aroma, setelah dibakar aroma asap kayu, menyengat), 1 (tanpa dibakar belum wangi, setelah dibakar wangi tetapi sangat lemah, menyengat), 2 (tanpa dibakar aroma wangi lemah menyengat, setelah dibakar wangi kuat, sedikit menyengat) dan 3 (tanpa dibakar wangi kuat dan lembut, setelah dibakar kayu meleleh, wangi sangat kuat, tidak menyengat) Data hasil pengukuran dan pengamatan dianalisis dengan uji F dan apabila hasilnya terdapat perbedaan nyata dilanjutkan dengan uji DMRT taraf á 5 %.
TECHNOLOGY OF AGARWOOD
TECHNOLOGY OF AGARWOOD QUALITY IMPROVEMENT IN
BENGKULU LITTORAL AREA WITH RESIN FUNGI INOCULATION
Hartal dan GuswarniAnwar
Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu
Jln Raya Kandang Limun Bengkulu 38371A
hartal@unib.ac.id
ABSTRACT
The objectives of this research was to get effective fungi as resin inductor to produce high quality agarwood, which could be used as good inoculation. This research was the second year research conducted in field to examine fungi isolate effectiveness as inoculation. The inoculation was made with cultivation method and examined at Aquilaria trees. The Completely Randomized Design was applied, consisting of : Acremonium sp., Cylindrocarpon sp., Fusarium nivale, Fusarium solani, Fusarium fusariodes, Fusarium roseum, Fusarium
lateritium and Chepalosporium sp. Twelve trees were inoculated ; every six trees got four isolates, by replicating each treatment five times, so the total of sample units was 240. The research was conducted for 6 months and the results showed that all of the isolates was effective in forming agarwood. Stem tissues underwent changes in color and size of disposition area. Furthermore, some isolates resulted fragrant aroma produced by stem of infected Aquilaria trees. The analysis of varians (Anova) showed that size of inoculation hole diameter, length and width of infected area, and stem tissues color significantly different among isolates. Aroma measurement was not significant different. Cylindrocarpon sp. is the most effective isolate to infect A.malaccensis trees, because it had the highest score among all of the tested variables.
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan jenis jamur yang efektif sebagai penginduksi resin untuk membentuk kayu gubal gaharu yang berkualitas tinggi yang akan dijadikan sebagai inokulum siap pakai oleh petani gaharu ataupun masyarakat yang akan membudidayakan pohon gaharu. Penelitian ini merupakan penelitian tahun kedua dilakukan di lapangan dengan mengiji efektivitas isolat jamur yang dijadikan inokulum. Inokulum dibuat dilakukan dengan metode kultivasi isolat jamur pembentuk gahru dan uji kemampuan (efektivitas) jenis jamur pembentuk gubal gaharu pada tanaman gaharu. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan faktor tunggal adalah jenis jamur terpilih pada penelitian tahun pertanian yaitu Acremonium sp., Cylindrocarpon sp., Fusarium nivale, Fusarium solani, Fusarium fusariodes, Fusarium roseum, Fusarium lateritium dan Chepalosporium sp. Inokulasi dilakukan pada 12 pohon, perlakuan empat jenis jamur di inokulasikan pada enam pohon dan empat jenis lainnya pada enam pohon lainnya, dengan ulangan masing-masing perlakuan lima kali,sehingga didapatkan 240 satuan percobaan. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa delapan jenis isolat yang diuji cukup efektif dalam pembentukan gaharu, hal ini dapat diketahui dari perubahan fisik yang terjadi pada jaringan batang yang ada di sekitar lubang inokulasi, yaitu adanya perubahan warna yang bervariasi dari cokelat muda sampai cokelat tua dengan panjang dan lebar area yang terinfeksi juga bervariasi. Selain dari uji aroma yang dilakukan dengan pembakaran didapatkan hasil bahwa beberapa isolat cukup potensial menghasilkan gaharu. Hal ini dapat diketahui dari potongan kayu yang terinfeksi dari sejumlah isolat tersebut setelah dikeringkan secara alami dan dibakar mengeluarkan aroma wangi gaharu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua perlakuan berbeda sangat nyata terhadap variabel ukuran diameter lubang inokulasi, panjang dan lebar area terinfeksi dan perubahan warna jaringan kayu terinfeksi, kecuali pengukuran aroma berbeda tidak nyata. Isolat Cylindrocarpon sp. merupakan isolat yang paling efektif menginfeksi pohon A. malaccensis karena menghasilkan nilai dan skor terbaik terhadap semua variabel yang diuji. Kata kunci : kayu gubal, Aquilaria malaccensis, Cylindrocarpon sp., inokulasi, resin
BUDIDAYA GAHARU SISTEM BIO INDUKSI,
HASIL KERJA KERAS PENELITI BALITBANG KEHUTANAN DEPHUT
GAHARU merupakan gumpalan berbentuk padat berwarna coklat kehitaman sampai hitam, berbau harum jika dibakar. GAHARU terdapat pada bagian kayu atau akar dari jenis pohon penghasil GAHARU yang telah mengalami proses perubahan kimia dan fisika akibat terinfeksi oleh sejenis jamur. Beberapa jenis pohon penghasil GAHARU antara lain adalah Aquilaria spp., Aetoxylon sympetallum, Gyrinops, dan Gonystylus. Pemanfaatan GAHARU di Indonesia oleh Masyarakat Pedalaman Sumatera dan Kalimantan, telah berlangsung puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu. Secara tradisional GAHARU dimanfaatkan antara lain dalam bentuk dupa untuk upacara ritual dan keagamaan, pengharum tubuh dan ruangan, bahan kosmetik dan obat-obatan sederhana. Saat ini pemanfaatan GAHARU telah berkembang sangat luas antara lain untuk parfum, aroma terapi, sabun, body lotion, bahan obat-obatan yang memiliki khasiat sebagai anti asmatik, anti mikrobia, dan stimulan kerja syaraf dan pencernaan. Akibat dari pola pemanenan yang berlebihan dan perdagangan GAHARU yang masih mengandalkan pada alam, maka jenis-jenis tertentu (seperti Aquilaria dan Gyrinops) saat ini sudah tergolong langka, dan masuk dalam lampiran Convention on International Trade on Endangered Species of Flora and Fauna (Appendix II CITES). Guna menghindari pohon penghasil GAHARU tidak punah dan pemanfaatannya dapat lestari maka perlu upaya konservasi, baik in-situ (di dalam habitat) maupun ek-situ (di luar habitat) dan budidaya, serta rekayasa untuk mempercepat produksi GAHARU dengan teknologi induksi (inokulasi). Oleh karena itu, pengembangan budidaya GAHARU ke depan, selain untuk konservasi, juga sekaligus dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, pemerintah daerah, dan devisa bagi negara. BUDIDAYA GAHARU Teknik Budidaya Pada saat ini, teknik budidaya tanaman penghasil gaharu telah dikuasai dengan baik, dari mulai kegiatan perbenihan, persemaian, penanaman dan pemeliharaannya. Adapun beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam kegiatan budidaya pohon penghasil gaharu antara lain adalah : Persyaratan Tumbuh. Tempat tumbuh yang cocok untuk tanaman penghasil gaharu adalah dataran rendah, lereng-lereng bukit, sampai ketinggian 750 meter diatas permukaan laut. Jenis Aquilaria tumbuh sangat baik pada tanah-tanah liat (misalnya podsolik merah kuning), tanah lempung berpasir dengan drainase sedang sampai baik. Tipe iklim A-B dengan kelembaban sekitar 80%. Suhu berkisar antara 22-28 drajat celcius dengan curah hujan berkisar antara 2000 s/d 4000 mm/tahun. Lahan tempat tumbuh yang perlu dihindari adalah (1) lahan tergenang secara permanen, (2) tanah rawa, (3) lahan dangkal (kedalaman kura dari 50 cm), (4) pasir kuarsa, dan (5) lahan yang ber-pH kurang dari 4,0. Pembibitan.
Bibit tanaman penghasil gaharu dapat dikembangkan melalui generatif dan vegetatif. Melalui generatif dilakukan dengan cara memanfaatkan potensi benih yang sudah masak dengan mengunduh biji atau benih yang jatuh dari pohon induk atau anakan (cabutan). Benih tanaman penghasil gaharu termasuk biji yang rekalsitran, yaitu biji yang cepat menurun kadar airnya sehingga mempengaruhi daya kecambahnya. Oleh karena itu, apabila benih sudah didapat, disarankan agar segera dilakukan penyemaian tanpa harus ditunda-tunda. Persemaian bibit penghasil gaharu dapat juga dibuat skala massal melalui stek pucuk, stek batang, dan kultur jaringan. Setiap teknik perbanyakan akan mempunyai konsekuensi biaya produksi bibit. Untuk perbanyakan stek pucuk, pengambilan bahan stek dapat berasal dari kebun pangkas atau bibit tanaman. Bahan stek yang baik adalah tunas yang tegak (autotrof), yang secara fisiologis muda, batangnya berkayu dan mempunyai jumlah ruas (nodum) lebih dari dua. Dengan penambahan hormon tertentu (yang berfungsi untuk meningkatkan kemampuan stek berakar dan mempercepat proses pertumbuhan akar) maka bahan stek telah siap ditanam pada bak pengakaran. Agar stek dapat berkembang menjadi bibit, perlu pemeliharaan yang intensif melalui penyediaan media yang sesuai, kelembaban yang tinggi, suhu udara dan cahaya yang cukup. Pemeliharaan dapat berlangsung sampai bibit siap tanam, yaitu 6 s/d 8 bulan. Pada tahap awal di persemaian, semua jenis bibit penghasil gaharu memerlukan naungan yang cukup (seperti halnya kelompok jenis meranti). Untuk mempercepat pertumbuhannya, bibit penghasil gaharu dapat diinokulasi oleh Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) sejak dini di persemaian. Penanaman. Penanaman bibit penghasil gaharu dapat dilakukan secara tumpangsari (agroforestry) dengan tanaman jagung, singkong, pisang dan lainnya. Cara lain adalah Bibit penghasil gaharu ditanam di sela-sela tanaman pokok (karet, akasia, sengon, kelapa sawit dan lainnya) yang telah tumbuh terlebih dahulu. Pada tahap awal pertumbuhan di lapangan, bibit penghasil gaharu memerlukan naungan. Apabila tanaman penghasil gaharu akan ditanam pada hamparan yang luas dan masih kosong, maka jarak tanam dapat dibuat 3 m x 5 m, 4 m x 4 m, atau 5 m x 5 m. Waktu penanaman diusahakan pada musim hujan agar bibit mendapatkan air yang cukup pada awal pertumbuhannya. Media tanam dapat berupa tanah dan kompos. Pada setiap lubang tanam dianjurkan untuk diberikan pupuk kompos minimum 1 kg setiap lubang. Pada tahap ini perlu perhatian mengenai pencegahan gangguan hama dan penyakit terutama pada akar. Pemeliharaan. Tanaman penghasil gaharu pada umur 1-3 tahun perlu dipelihara secara intensif, terutama mengurangi ganguan gulma. Karena tanaman penghasil gaharu telah ber-mikroriza, maka penggunaan pupuk kimia dapat diminimalisir. Setelah tanaman berumur 4-5 tahun atau berdiameter 10-15 cm, barulah tanaman penghasil gaharu siap untuk diinduksi secara buatan dengan menggunakan jamur pembentuk gaharu, dan pada saat ini, tanaman penghasil gaharu tidak memerlukan pemupukan lagi. Jamur Pembentuk Gaharu. Sejumlah isolat jamur hasil eksplorasi dari berbagai daerah di Indonesia telah diidentifikasi berdasarkan ciri morfologis untuk mengetahui keanekaragaman jenisnya. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa sebagian besar isolat yang diperoleh merupakan genus Fusarium dan isolat dari genus Cylindrocarpon. Saat ini terdapat sekitar 23 isolat jamur jenis Fusarium yang telah diisolasi dari 17 provinsi di Indonesia dan diujicobakan pada berbagai jenis tanaman penghasil gaharu di Pulau Bangka, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jawa Barat dan Banten. Dari 23 isolat tersebut, ada 4 isolat yang sudah teruji dapat membentuk infeksi gaharu dengan cepat. Uji coba lebih lanjut keempat jamur tersebut telah dilakukan di beberapa tempat antara lain adalah Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Jawa Barat (Sukabumi dan Darmaga) dan Banten (Carita). Dalam waktu 1 bulan saja, tanaman penghasil gaharu yang telah diinokulasi dengan jamur pembentuk diatas, telah menunjukkan tanda-tanda keberhasilan. Rekayasa Produksi.
Tahapan rekayasa produksi gaharu secara buatan melalui beberapa proses sebagai berikut :
- Isolasi jamur pembentuk.Isolat jamur pembentuk diambil dari jenis pohon penghasil gaharu sesuai jenis dan ekologi sebaran tumbuh jenis pohon yang dibudidayakan.
- Identifikasi dan skrining.Isolat jamur pembentuk diidentifikasi berdasarkan taksonomi dan morfologinya. Proses skrining dilakukan dengan menggunakan postulat koch untuk memastikan jamur yang memberikan respons pembentukan gaharu, memang berasal dari jamur yang diinokulasi.
- Teknis perbanyakan inokulum.Biakan murni jamur pembentuk gaharu dapat diperbanyak pada media cair dan media padat. Diperlukan ketrampilan khusus dalam memperbanyak jamur agar proses kemurnian dan peluang masing-masing jenis jamur pembentuk gaharu akan memberikan respon yang berbeda apabila disuntik pada jenis pohon penghasil gaharu yang berbeda.
- Teknik induksi.Teknik induksi jamur pembentuk gaharu dilakukan pada batang pohon penghasil gaharu. Reaksi pembentukkan gaharu akan dipengaruhi oleh daya tahan inang terhadap induksi jamur dan kondisi lingkungan. Respon inang ditandai oleh perubahan warna coklat setelah beberapa bulan disuntik. Semakin banyak jumlah lubang dan inokulum dibuat, maka semakin cepat pembentukkan gaharu terjadi. Proses pembusukan batang oleh jamur lain dapat terjadi apabila teknik penyuntikan tidak dilakukan sesuai prosedur.
- Pemanenan.Pemanenan gaharu dapat dilakukan minimum 1 tahun setelah proses induksi jamur pembentuk gaharu. Apabila ingin mendapatkan produksi gaharu yang baik dari segi kualitas maupun kuantitas, maka proses pemanenan dapat dilakukan 2-3 tahun setelah proses induksi jamur.
Untuk sementara produk gaharu buatan yang dipanen setelah 1 tahun tersebut, berada pada kelas kemedangan dengan harga jual US $ 100 per kg. Kerjasama Kemitraan Kerjasama pengembangan gaharu skala bisnis terbuka untuk masyarakat umum, dimulai dari kegiatan budidaya tanaman penghasil gaharu, rekayasa produksi gaharu, pemanenan dan pemasarannya. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam memliki fasilitas laboratorium, persemaian dan lahan uji coba riset gaharu di beberapa lokasi di Indonesia. Kegiatan riset didukung oleh peneliti-peneliti yang berpengalaman khusus menangani komoditi gaharu, yaitu (1) Dr. Erdy Santoso, MS, (2) Dr. Maman Turjaman, (3) Dr. Irnayul R. Sitepu, (4) Ir. Ragil SB Irianto, MSc, (5) Luciasih Agustini, Ssi, dan (6) Drs. Yana Sumarna, Msi. Informasi disadur dari Leaflet Balitbang Kehutanan Dephut. (Sumarto/Kababes KSDA Jatim)
pemeliharaan bibit gaharu
Tahap awal dalam membudidayakan tanaman gaharu adalah ketersediahan lahan yang cocok untuk penanaman jenis tanaman ini, karena tanaman gaharu memerlukan tanaman inang atau ada persentasi kerapatan cahaya yang harus di atur bila ingin mendapatkan hasil yang maksimal. kemudian untuk tahap kedua adalah ketersediaan bibit tanaman serta penanganan serta pemeliharaan bibit tersebut.
Untuk artikel kali ini akan dijelaskan mengenai tata-cara pemeliharaan dan penanganan bibit gaharu agar bibit tersebut dapat tumbuh dengan maksimal dan siap tanam. dengan metode yang saya kutip dari blog Laksmana Nursery yang juga menyediakan berbagai jenis bibit gaharu kualitas bagus di daerah wisata sumatera utara, tepatnya kota wisata prapat yang terkenal dengan danau toba nya. oke, kita mulai ulasan mengenai topik kita.
1. Pemeliharaan Bibit Gaharu cara Penyungkupan
Bahan dan alat yang diperlukan :
- Polybag ukuran 10 cm x 15 cm
- Media tanam : topsoil (humus), kompos dan pasir (2:1:1) (jangan pupuk kimia)
- Bambu untuk pembuatan sungkup (tergantung ukuran besar kecilnya sungkup).
- Plastik bening (untuk sungkup)
- Lakban/ plaster
- Tali pengikat
A. Pemilihan Lokasi
Lokasi persemaian hendaknya berada pada daerah yang ternaungi (di bawah tegakan). Dihindari penempatan bibit berada langsung di bawah terik matahari. Apabila tidak terdapat naungan tegakan yang cukup, dapat dilakukan pemasangan paranet/shading net dengan persentase 50-75% (paranet tidak diletakkan langsung diatas sungkup). Lokasi juga hendaknya dekat dengan sumber air.
B. Penyiapan Media Tanam
- Media tanam adalah campuran topsoil dengan kompos dan pasir dengan campuran 2:1:1. Sebaiknya dihindari penggunaan pupuk kimia.
- Media tanam dimasukkan ke dalam polybag dengan ukuran 10 cm x 15 cm atau dapat juga ukuran yang lebih besar (15 x 20 cm). Ukuran polybag juga dipengaruhi ketersediaan lahan pembibitan. Polybag yang berukuran besar memerlukan lahan persemaian yng lebih luas.
- Polybag yang telah terisi disusun dengan lebar maksimal 20-30 baris dengan panjang bedengan disesuaikan dengan banyaknya bibit yang disemaikan.
C. Penanaman
- Bibit yang telah tersedia sebaiknya direndam dalam air bersih selama 30 menit setelah dikeluarkan dari kardus.
- Bibit ditanamkan ke dalam polybag dengan terlebih dahulu membuat lubang sebesar ukuran perakaran bibit pada media tanam pada polybag.
- Setelah ditanami dilakukan penyiraman secukupnya.
D. Pembuatan Sungkup
- Pembuatan sungkup dilakukan dengan ukuran tinggi 40 – 50 cm dengan lebar adalah ukuran penyusunan polybag (20 baris) dan panjang tergantung panjang susunan polybag.
- Pertama kali dibuat tiang utama pada bagian pangkal-tengah-ujung bedengan dengan galangan/ palang dari pangkal – ujung bedengan.
- Kemudian dibuat busur-busur dari bambu dengan jarak antar busur maksimal 1 (satu) meter. Ujung masing-masing busur ditancapkan ke dalam tanah di samping posisi bibit terluar serta bagian tengah busur diikatkan pada galangan/palang.
- Plastik benih (jangan hitam) dipasang setahap demi setahap mulai dari pangkal ke ujung. Bersamaan dengan pemasangan plastic dilakukan penyiraman hingga bibit jenuh air dan seluruh plastic bagian dalam basah. Hal ini dilakukan hingga seluruh kerangka sungkup tertutup erat plastic.
- Kedua ujung sungkup (yang akan berbentuk kubah panjang) ditutup rapat dengan lakban/plaster sehingga udara tidak dapat keluar masuk. Pada kedua bagian ini (pangkal dan ujung) plastic pelapis sebaiknya dua rangkap untuk menghindari kebocoran.
- Seluruh pinggir plastic yang berada didekat permukaan tanah ditutupi dengan tanah dengan rapat.
E. Pemeliharaan
- -Bibit dipelihara dalam sungkup selama +/- 2 bulan. Selama ini kegiatan pemeliharaan yang dilakukan adalah melakukan control minimal 1 minggu sekali dengan memperhatikan kondisi kelembaban di dalam sungkup. Apabila bibit terlihat kering maka dilakukan penyiraman kembali hingga polybag terlihat jenuh air. Dalam penyiraman tersebut dihindari pembuka sungkup dengan ukuran besar sehingga cukup dimasuki selang saja.
- Setelah lebih kurang 2 bulan, sungkup dibuka setahap demi setahap (Dilarang membuka sungkup sekaligus) misal setengah meter sehari. Selama pembukaan sungkup tetap dilakukan penyiraman secukupnya.
- Setelah semua sungkup dibuka, sebaiknya bibit disiram sekali sehari (terutama pada musim kemarau) hingga bibit siap didistribusikan.
- Untuk menghindari akar bibit menembus tanah sebaiknya setiap dua bulan sekali dilakukan penggeseran bibit.
2.Pemeliharaan Bibit Gaharu Cabutan/Stump
Berikut ini kami sampaikan beberapa catatan untuk mendukung keberhasilan pemeliharaan bibit gaharu (Aquilaria malaccensi) yang berasal dari cabutan/stump (pengiriman dari tempat lain) :
- Pemeliharaan bibit yang berasal dari cabutan/stump harus terlebih dahulu dikondisikan dengan penyungkupan. Pemeliharaan bibit tanpa penyungkupan beresiko kegagalan walaupun bedeng pemeliharaan telah diletakkan di bawah naungan sekalipun. Ikuti petunjuk teknis pembuatan sungkup sebagaimana yang kami lampirkan. Sungkup terbuat dari plastic dan plastic sungkup tersebut dapat diperoleh dari toko peralatan pertanian atau toko plastic.
- Media tanam sebaiknya merupakan campuran topsoil : kompos : pasir (2:1:1)
- Penyiraman pertama harus betul-betul jenuh air dan penyiraman berikutnya hanya dilakukan jika media tanam terlihat kering. Dalam penyiraman tersebut dihindari membuka sungkup ukuran besar, cukup hanya dimasuki selang/lobang kecil.
- Peletakan sungkup/bedeng pemeliharaan harus di bawah naungan tegakan (sebaiknya rindang) sehingga tidak ada sinar matahari langsung dengan intensitas tinggi dan lama. Paranet/shading net 75% diperlukan jika naungan tegakan kurang dan sebaiknya diatas sungkup diberikan lagi jerami/ pelepah daun kelapa/sawit. Periksa jika terjadi kebocoran pada sungkup.
- Hindari membuka-tutup sungkup cukup sering. Dengan pembuatan sungkup yang tepat, kondisi di dalam sungkup akan terlihat mengembun dan tidak kering. Jika terlalu sering membuka dan menutup sungkup bibit beresiko kematian.
- Setelah 3-4 minggu, sungkup dibuka secara bertahap, dilarang membuka sungkup sekaligus. Contoh : hari pertama dibuka 0,5 meter, hari kedua 1 meter dan seterusnya. Jika dibuka sekaligus bibit beresiko kematian.
- Setelah dikeluarkan dalam sungkup, bibit dipeliharan dibawah naungan paranet dan sebaiknya juga di bawah tegakan agar tercipta iklim yang baik bagi pertumbuhan bibit.
gaharu
Bau gaharu cukup komplek dan menyenangkan, secara alamiah tidak ada padanan yang tepat . Gaharu dan minyaknya mendapat perhatian besar dalam budaya dan agama sejak peradaban kuno di seluruh dunia, seperti tertuang dalam catatan tertua – dalam tulisan berbahasa Sanskerta dari India.
Pada awal abad ke-3, dalam Nan wu yi zhou zhi (Hal-hal aneh dari Selatan) yang ditulis oleh Wa Zhen dari Dinasti Wu, menyebutkan bahwa gaharu diproduksi di wilayah Rinan, sekarang dikenal sebagai Vietnam bagian tengah, dan diceritakan mengenai bagaimana orang-orang mengumpulkan gshsru dari hutan dan pegunungan di daerah itu.
Dimulai pada tahun 1580, setelah Nguyen Hoang mengambil kendali atas provinsi-provinsi tengah Vietnam modern, ia mendorong kerja sama di bidang perdagangan dengan negara lain, khususnya negara Cina dan Jepang. Gaharu yang diekspor di golongkan dalam 3 varitas yaitu Calambac (ky nam dalam bahasa Vietnam) trem hurong (sangat serupa tetapi sedikit lebih keras dan lebih banyak), dan gaharu itu sendiri. Satu pon Calambac dibeli di Hoi An selama 15 tael dapat dijual di Nagasaki untuk 600 tail. Penguasa Nguyen segera mendirikan kerajaan Monopoli atas penjualan Calambac. Monopoli ini membantu mendanai keuangan negara Nguyen selama tahun-tahun awal aturan Nguyen.
Xuanzang’s travelouges dan Harshacharita, yang ditulis pada abad ke-7 Masehi di India Utara menyebutkan penggunaan produk-produk gaharu seperti ‘Xasipat’ (bahan tulisan) dan ‘minyak aloe‘ di Assam kuno (Kamarupa). Tradisi membuat bahan-tulisan dari kulit gaharu masih ada di Assam india hingga saat ini.
Gaharu atau dalam bahasa Inggris disebut dengan agrawood atau aloeswood yang merupakan resin dalam batang kayu yang yang dihasilkan dari pohon Aquilaria (jenis asli Asia Selatan / Tenggara) melalui infeksi cendawan patogen. Sebelum infeksi, batang kayu berwarna cerah dan relatif ringan, namun setelah terinfeksi, pohon menghasilkan resin aromatik yang berwarna gelap sebagai akibat dari infeksi cendawan patogen,resin gaharu berupa damar padat sehingga menjadi lebih berat. Resin dalam kayu tersebut biasa disebut gaharu, jinko, aloeswood, Agarwood, atau oud yang banyak digunakan dalam banyak kebudayaan untuk aroma yang khas, dalam bentuk dupa dan parfum.
Salah satu penyebab mengapa gaharu menjadi semakin mahal adalah keberadaannya yang semakin langka di alam. Sejak tahun 1995 Aquilaria malaccensis, sumber utama penghasil gaharu, telah tercantum dalam CITES Lampiran II (berpotensi terancam punah) dan pada tahun 2004 semua jenis Aquilaria tercantum dalam CITES Lampiran II; Namun demikian, sejumlah negara menyatakan keberatan penetapan tersebut.
tanaman penghasil gaharu yang telah ditemukan sebagian besar terdapat di kawasan asia dan terdiri dari bermacam jenis, dan jenis yang banyak di budidayakan untuk saat ini adalah jenis Aquilaria malaccensis, yang banyak ditemukan di Indonesia, Malaysia, Thailand, dan India dan jenis ini juga merupakan jenis yang memiliki kwalitas yang banyak di cari.
Tanaman penghasil gaharu ditemukan dari family thymelaeaceae dengan jenis-jenis antara lain :
- Aquilaria acuminata, (Gyrinopsis acuminata), di wilayah papua
- Aquilaria apiculina, di Pilipina
- Aquilaria baillonil, di Thailand dan Kamboja
- Aquilaria baneonsis, di Vietnam
- Aquilaria beccariana, di Indonesia
- Aquilaria brachyantha, di Malaysia
- Aquilaria crassna di Malaysia, Thailand, dan Kamboja
- Aquilaria cumingiana, di Indonesia dan Malaysia
- Aquilaria filaria, di Indonesia, China
- Aquilaria grandiflora, di China
- Aquilaria hirta, di Indonesia and Malaysia
- Aquilaria khasiana, di India
- Aquilaria malaccensis, di Indonesia, Malaysia, Thailand, dan India
- Aquilaria microcapa, di Indonesia dan Malaysia
- Aquilaria rostrata, di Malaysia
- Aquilaria sinensis, di China
- Aquilaria subintegra, di Thailand
- Aquilaria urdanetensis Philipina
- Aquilaria yunnanensis China
- Aquilaria citrinicarpa
- Aquilaria rugosa
- Aquilaria pentandra
- Aquilaria parvifolia
- Aquilaria ophispermum