Kamis, 13 Mei 2010

Hartal dan GuswarniAnwar
Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu
Jln Raya Kandang Limun Bengkulu 38371A
hartal@unib.ac.id

Gahru.1 056 Tanaman gaharu    Aquilaria malaccensis merupakan tanaman hutan yang menghasilkan hasil hutan non kayu yang bernilai ekonomi tinggi karena tanaman ini dapat memproduksi gubal gaharu yang aromanya harum karena mengandung damar wangi (aromatic resin) sebagai akibat adanya serangan jamur.

Gubal gaharu sebagai komoditi elit bermanfaat untuk  keperluan industri parfum, kosmetik, tasbih dan obat-obatan. Komoditi ini mempunyai harga jual yang sangat tinggi dan terus meningkat dari tahun ke tahun. Terbentuknya gaharu secara alami berkaitan dengan proses patologis yang disebabkan beberapa jenis mikroba patogen pembentuk gaharu.

Keberadaan jamur tersebut dapat direkayasa dengan mengisolasinya dari berbagai sumber yang dapat dijadikan inokulum untuk menginduksi pohon gaharu. Penyediaan inokulum yang efektif dan sesuai  dengan lingkungan,  mutlak diperlukan untuk menghasilkan kayu gubal gaharu yang berkualitas sehingga memiliki nilai jual yang tinggi.

Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan jenis jamur yang efektif sebagai penginduksi resin untukproses membentuk kayu gubal gaharu yang berkualitas tinggi yang akan dijadikan sebagai inokulum siap pakai oleh petani gaharu ataupun masyarakat yang akan membudidayakan pohon gaharu.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Jurusan Perlindungan Tanaman Fakultas  Pertanian Universitas Bengkulu dan kebun penduduk Dusun Tanjung Dalam Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Utara,  Penelitian ini merupakan penelitian tahun kedua yang dilakukan di lapangan dengan menguji efektivitas isolat jamur yang dijadikan inokulum. Inokulum dibuat dilakukan dengan metode kultivasi isolat jamur pembentuk gaharu dan uji kemampuan (efektivitas) jenis jamur pembentuk gubal  gaharu pada tanaman gaharu.

Kegiatan kultivasi adalah memperbanyak isolat murni dari spesies jamur terpilih  yang didapat pada percobaan tahun pertama dan diremajakan dalam bagian jaringan pohon
kayu gaharu yang telah disterilkan, kemudian diinkubasikan pada suhu ruangan (28 0C)  selama tujuh hari. Isolat ini digunakan sebagai sumber inokulum pada percobaan uji efektivitas jenis jamur pembentuk gubal gaharu pada pohon tanaman gaharu yang telah disiapkan pada peneliitan sebelumnya (tahun pertama).

Inokulasi lubang  pohon dengan inokulum yang telah dibuat dari hasil kultivasi dari bagian pohon tanaman gaharu. Inokulasi dilakukan dengan cara memasukkan  inokulum potongan batang kayu gaharu yang telah diinokulasi jenis jamur perlakuan ke setiap lubang bor. Label perlakuan yang terbuat dari plastik mika dipakukan pada pohon sehingga tidak mudah rusak. Penutupan lubang yang telah diinokulasi dengan menggunakan sumbat dari potongan karet, sehingga dapat dipastikan bahwa sumbat tersebut menutup penuh lubang inokulasi dan tidak akan terlepas, dan air tidak dapat masuk ke dalam lubang bila ada hujan.

Pengamatan pembentukan gaharu dilakukan 6 bulan setelah inokulasi. Pemeriksaan lubang untuk mengetahui pembentukan gaharu dilakukan dengan cara menyayat/ mengupas kulit batang yang terjadi pembentukan gaharu.  Ciri-ciri dari pembentukan gaharu biasanya kulit batang menjadi lunak, dan setelah disayat/dikupas pada bagian kayu berubah warna dari warna coklat hingga coklat kehitaman. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan faktor tunggal adalah jenis jamur terpilih pada penelitian tahun pertama yaitu:

j1 =    Acremonium sp.,
j2  =Cylindrocarpon sp.,
j3 = Fusarium nivale,
j4  =Fusarium solani,
j5 = Fusarium fusariodes,
j6 =Fusarium roseum
j7 = Fusarium lateritium dan
j8 = Chepalosporium sp.

Inokulasi dilakukan pada  12 pohon, perlakuan empat jenis jamur diinokulasikan pada enam pohon dan empat jenis lainnya pada enam pohon lainnya, dengan ulangan masing-masing perlakuan lima kali, sehingga didapatkan 240 satuan percobaan. Variabel yang diamati dan diukur adalah :

  1. Perubahan warna, yaitu dengan menyayat kulit kayu di sekitar lubang inokulasi sehingga kelihatan kayu hasil inokulasi. Warna yang terbentuk dicatat dengan panduan gambar Santoso et al. (2006). Kriteria yang diamati adalah perubahan dari warna putih, coklat muda, coklat tua dan hitam.  Skor warna yang digunakan dengan kriteria : 0 (warna kayu tidak berubah (putih), 1 (warna kayu coklat muda), 2 (warna kayu coklat tua) dan 3 (warna kayu hitam)
  2. Panjang area deposisi resin. Dilakukan dengan cara mengukur panjang warna resin yang terbentuk (panjang vertikal dan horizontal) mulai dari tepi lubang bor sampai ujung warna yang terbentuk dengan menggunakan kertas milimeter.
  3. Perubahan ukuran diameter lubang. Pengukuran diameter lubang dimaksudkan untuk mengetahui apakah terjadi pelapukan atau tidak Jika ukuran lubang inokulasi semakin besar berarti kayu mengalami pelapukan. Perubahan diameter lubang diukur dengan kertas milimeter.
Perkembangan aroma. 
Perkembangan aroma diamati oleh tiga orang ahli gaharu sebagai perbandingan untuk mendapatkan skor aroma yang objektif. Selain itu juga melibatkan responden yang lain dari kalangan umum (mahasiswa dan laboran). Dilakukan dengan cara mengambil sebagian kayu hasil inokulasi kemudian membakarnya (Badan Standarisasi Nasional, 1999). Skor dan kriteria yang digunakan yaitu : 0 (tanpa dibakar tidak ada aroma, setelah dibakar aroma asap kayu, menyengat), 1 (tanpa dibakar belum wangi, setelah dibakar wangi tetapi sangat lemah, menyengat), 2 (tanpa dibakar aroma wangi lemah menyengat, setelah dibakar wangi kuat, sedikit menyengat) dan 3 (tanpa dibakar wangi kuat dan lembut, setelah dibakar kayu meleleh, wangi sangat kuat, tidak menyengat) Data hasil pengukuran dan pengamatan dianalisis dengan uji F dan apabila hasilnya terdapat perbedaan nyata dilanjutkan dengan uji DMRT taraf รก 5 %.

Artikel Terkait



0 komentar:

Poskan Komentar

Komentar anda...